Memilah dan memilih pekerjaan apalagi anti terhadap
pekerjaan tertentu kini tak lagi berlaku. Tidak ada kerja tidak makan, tidak
ada kerja tidak sekolah, tidak ada kerja menganggur tapi ‘sok’ banyak acara.
Sekarang kerja tidak bisa dipilih jika kemampuan dan
kualitas diri tak mumpuni. Asal kerja asal halal tidak terlalu menjadi masalah.
Yang jadi masalah mungkin gengsi, namun apalah artinya gengsi kalau usia sudah
tak muda lagi. Ketika tubuh tak sebugar dulu lagi serta kemampuan yang dimilki
sebatas mengandalkan fisik maka apapun asal halal dilakukan demi terpenuhinya
kebutuhan keluarga.
Sebenarnya masih banyak yang bisa dibilang siap atau
memenuhi kriteria siap untuk membina rumah tangga namun apa daya naluri terasa
sulit ditahan akibatnya kebutuhan keluarga mengalahkan lainnya.
Dan bekerja dengan semampunya mungkin jalan paling prospek.
Karena jika ditilik melalui prediksi pertumbuhan usia produktif yang semakin
membludak daripada menunggu waktu lebih bijaksana langsung bertindak.
Akan tetapi manusia dengan usia produktif selain sedang
mengenyam bangku sekolah maupun
perguruan tinggi dibimbing, dibina, untuk kemudian dibudidayakan menjadi
wirausahawan dibidang industry, lingkungan serta sosial. Kemungkinan besar akan
lebih banyak menyerap pengangguran dan secara tidak langsung mengurangi beban
negara mengurus jumlah manusia usia produktif yang belum bermata pencaharian.
Lagi-lagi kreatifitas, inovasi, komitmen, dedikasi, tekad
dan mimpi sangat diperlukan generasi usia produktif, sebelum akhirnya berada
pada level setengah masa selanjutnya tidak bisa memilih dan menentukan profesi
yang akan ditekuni.
11 Juni 2013