Senin, 05 Mei 2014

Kerja?!

Memilah dan memilih pekerjaan apalagi anti terhadap pekerjaan tertentu kini tak lagi berlaku. Tidak ada kerja tidak makan, tidak ada kerja tidak sekolah, tidak ada kerja menganggur tapi ‘sok’ banyak acara.

Sekarang kerja tidak bisa dipilih jika kemampuan dan kualitas diri tak mumpuni. Asal kerja asal halal tidak terlalu menjadi masalah. Yang jadi masalah mungkin gengsi, namun apalah artinya gengsi kalau usia sudah tak muda lagi. Ketika tubuh tak sebugar dulu lagi serta kemampuan yang dimilki sebatas mengandalkan fisik maka apapun asal halal dilakukan demi terpenuhinya kebutuhan keluarga.

Sebenarnya masih banyak yang bisa dibilang siap atau memenuhi kriteria siap untuk membina rumah tangga namun apa daya naluri terasa sulit ditahan akibatnya kebutuhan keluarga mengalahkan lainnya.

Dan bekerja dengan semampunya mungkin jalan paling prospek. Karena jika ditilik melalui prediksi pertumbuhan usia produktif yang semakin membludak daripada menunggu waktu lebih bijaksana langsung bertindak.

Akan tetapi manusia dengan usia produktif selain sedang mengenyam bangku  sekolah maupun perguruan tinggi dibimbing, dibina, untuk kemudian dibudidayakan menjadi wirausahawan dibidang industry, lingkungan serta sosial. Kemungkinan besar akan lebih banyak menyerap pengangguran dan secara tidak langsung mengurangi beban negara mengurus jumlah manusia usia produktif yang belum bermata pencaharian.

Lagi-lagi kreatifitas, inovasi, komitmen, dedikasi, tekad dan mimpi sangat diperlukan generasi usia produktif, sebelum akhirnya berada pada level setengah masa selanjutnya tidak bisa memilih dan menentukan profesi yang akan ditekuni.

11 Juni 2013