Minggu, 23 April 2017

Tidak ada yang baru di bawah matahari dan segala akan mati.

Sudahkah melupakan apa yang ingin diingat, melihat sebagian yang tak lagi kita rawat. Mudah membiarkan perasaan yang tak kita inginkan membaur dalam remah-remah percakapan. Dan terlalu mudah kita melupakan kemudian. Jika ingatan akan lupa tak mampu kita pupuk sedemikian rupa maka kehancuran ingatan selanjutnya tak kan terlewat. Dan dari segala ingatan akan kata, maka setidaknya kita mampu melupakan sebagian dari makna. Lalu kata-kata sebatas alat bukan tujuan, dan makna tak lagi lekat padanya.
Harapan yang kita tujukan pada kata-kata yang kita ucapkan seringkali hanya menjadikan kita semakin merana. Ia; harapan, tak sudi kita damaikan dengan kenyataan. Sebab selalu ada rasa dan logika yang tak patuh pada keinginan dan tak mudah diabaikan. Seribuan malam yang sudah dilalui dan dingin sunyi yang menembus selimut dan kaus kaki bukan pantas dijadikan kenangan, hal itu cukup menjadi pengalaman. Pengamalan petuah sang bijak pada malam-malam tertentu sering dijadikan lumrah. Sebagai kudapan pada malam-malam gelap yang terlalu ringan, angan akan kebenaran lambat untuk diwujudkan.

Keributan pada hari yang sepi membawa angin segar akan pengalaman yang tak jauh pernah dialami, bahwa kepala yang kosong dan berisi sebuah otak ini pada waktu silam dijejali berbagai informasi dan dihadapkan berbagai kondisi. Ramalan bintang oleh para pengajar mungkin salah, juga mengenai teori akan masa depan yang dituliskan tak semuanya cocok diaplikasikan.
Rumah-rumah yang berjajar rapi dan tak pernah saling sikut, dikemudian hari menyadari bahwa penghuni mereka semakin mudah marah, bukan lagi manusia konvensional yang sabar pun tabah. Tembok-tembok dengan cat terkelupas dan ditumbuhi lumut menjadi tempat kencing paling nyaman bagi pemuda tanggung di sekitaran.
Ruang-ruang hijau yang dialiri air dari pedesaan di sebelah selatan mulai kering dan tandus oleh kemarau berkepanjangan. Anak-anak bermain di bawah debu-debu tanah kering, terpeleset kerikil dan batu kecil dan tak kuasa menahan dahaga di bawah rindang pohon tua.
Mereka mengucapkan sesuatu, berbisik, saling menyahut, beberapa saling membentak, namun kata-kata yang mereka ucapkan bukan lagi bahasa yang berdaya guna, bagi mereka kata-kata tersebut telah kehilangan makna sebagai penunjuk suatu benda dan atau peristiwa. Kata-kata yang keluar dari mulut mereka kini bercampur dengan debu-debu kering di ruang-ruang hampa kerongkongan. Melebur dengan dedaunan yang jatuh di got-got kotor perumahan. Menjadi satu dengan kotoran kucing di gundukan pasir di tengah-tengah taman.

Kehidupan monoton tak beriak-bergelombang mudah ditebak. Dalam putarannya yang selalu. Dan dalam ingatannya yang mulai layu; kehidupan menemui jalan memutar yang tak kunjung usai. Ibarat labirin besar nan rumit, kini ia seakan berkelit. Kehidupan seringkali begitu megah, dan sekaligus bagi yang lain terasa begitu sederhana dan sengsara. Namun diantara pengagum dan penghujat ada sebuah kesepakatan bahwa kehidupan yang telah ditawarkan dan didapat tak boleh disia-siakan.
Nafas yang menderu di tengkuk perempuanku, dan hangat dalam pagutan lidah malam itu. Hidup yang menemukan gairah tapi bukan sesuatu yang baru, hidup seperti itu adalah kebutuhan yang harus diselaraskan. Ia; ingin yang dihajatkan. Dalam remang hidup dan kehidupan pongah, sekalipun terasa gerah, ada saat-saat wajah yang muram itu merona merah.
Lalu ketika udara hambar merasuk di lubang hidung dan lembab di kulit mulai mengganggu, kau akan meletakkan tugasmu, sebentar, untuk mengeringkan badan juga membasuh kepala yang mulai panas oleh ide-ide gila. Ide dan gagasan yang berpacu di kepala di sore hari yang panas dengan angin berhembus cukup lama. Ide dan gagasan yang tak setiap hari muncul dan mereka timbul tanpa diduga. Tumbuh di ingatan diejawantahkan dalam tulisan dan berakhir pada percakapan dengan teman.

Kegembiraan aneh seringkali datang meski sejenak, lalu pergi bersama dengan deru motor dan mobil pagi hari. Semacam polusi udara yang pengap, hitam, dan kotor, kegembiraan itu berbondong-bondong ditekan jumlahnya. Gembira yang melenakan adalah pembunuh nomor satu dari kewarasan, padahal jika boleh jujur gembira ialah efek samping dari perasaan lega.
Maka pada waktu sial tiba, aku akan terlihat tersungkur di pinggiran jalan akibat lalai menekan rem sepeda, pada saat itu kepala sedang terisi oleh angan berduaan dengan si dia. Ya, gembira pada waktu itu karena tak kusikapi secara seksama malah menimbulkan problema. Namun sekali lagi, gembira juga bukan tujuan sebab hidup terlalu rendah jika disikapi demikian.
Di gelas-gelas kosong bekas pembeli menghabiskan teh atau kopi sedemikian hebat senyum itu terkembang menampakkan gigi-gigi yang terawat. Luka-luka yang dulu didapat seolah menemukan penawarnya, kepuasan pelanggan telah menjadi obat yang mujarab. Doa-doa yang dilantunkan pada menit-menit sebelum terlelap terdengar merdu bercampur aroma tanah basah pada dini hari di akhir minggu. Seolah membuktikan, hari-hari biasa setelahnya luka itu mulai tersimpan dan hanya jadi bahan; untuk diingat dan jadi pengingat, sekaligus tak perlu lagi diisolasi dan diberi obat.

Kurang lebih dalam seminggu ada waktu untuk membaca buku yang masih jauh dari predikat penuntut ilmu, tapi begitulah ia menjalani, pelan-pelan dan kadang membosankan. Dan saat kesibukan di luar rumah menuntut kekritisan, pembiasaan diri untuk membaca beragam informasi dan berdiskusi hasilnya adalah kelelahan membayangkan apa yang akan terjadi dan untuk apa semua ini. Beberapa jam dihabiskan hanya untuk merenung; akan jadi apakah aku ini?. Sehingga budaya berpikir berakhir pada ketakutan dan akibat fatalnya ialah menganggap sinis yang orang lain lakukan, malas berbuat, dan tak mau tahu keadaan yang terjadi di lingkungan pertemanan.
Kefanaan manusia dan eksistensi palsu dihadapan orang-orang menjungkalkan prediksi; diri berpotensi yang mampu mempengaruhi. Sebab apa-apa yang dilakukan dan kemudian ditiru oleh liyan hanyalah pemenuhan nafsu akan pengakuan. Agar diakui bisa, diakui punya kuasa, diakui berbeda, diakui kecerdasannya, dan diakui kehebatannya. Pada tahap inilah media massa menjadi sarana paling jitu, untuk melancarkan aksi penghakiman terhadap mereka-mereka yang terpinggirkan, terhadap mereka yang tak sejalur dengan arustama.

Cahaya berpendar di ruas-ruas jalanan kota ini tak menyiratkan ketulusan. Mereka hanya datang untuk dilupakan. Begitu saja tanpa perayaan yang semestinya manusia-manusia itu lakukan. Pendaran lampu jalan, pun cahya redup rembulan tak disemai dengan keindahan. Dilewati laiknya genangan air yang terhempas ke tubuh-tubuh pejalan kaki. Yang namanya kenangan dalam balutan sinar hangat kebersamaan telah dikebumikan bersama peti mati imaji dan keberanian. Mereka yang menyaksikan, melangkah keluar rumah dengan pelan, mencoba mencari dalam perpustakaan ingatan sebuah kata untuk menggambarkan suasana kekalutan. Yah, mungkin keterlambatan, atau bisa jadi penyesalan.
Pekerjaan paling berat ialah melupakan dan pekerjaan paling berani ialah memaafkan. Maka jika tak mampu menemukan mata pencaharian, setidaknya sanggup untuk memaafkan kesalahan; diri pun yang lain. Serta jika tak sanggup melupakan yang sudah tersimpan dalam memori sudah seharusnya merancang strategi perdamaian. Sebab hidup terlalu rapuh jika diisi oleh kebencian. Rindu yang menyayat perasaan tak mampu menjadi obat kebencian, benci yang terakumulasi dan tertata rapi di satu pihak bisa menjadi amunisi, dan sekaligus mengubah wujudnya serupa minyak panas yang diguyurkan ke kulit manusia.
Ketenangan pada jam-jam dini hari dan juga gerimis yang awet memberi perasaan malu. Menggiring pada cita-cita yang masih berupa wacana. Mengajaknya kembali menyusuri kepentingan-kepentingan yang ingin dipenuhi. Dan bahkan menerjemahkan kegetiran kopi dan apa maksud serta tujuan kehidupan.

Lalu, kita kembali pada jam-jam setelah berpeluh dan memeluk kesepian. Pada antusiasme dingin yang tertahan. Dan pada hasrat murni yang malu-malu. Bukan sebab tak mampu, melainkan rencana-rencana ke depan yang seolah muskil sedikit banyak membuyarkan konsentrasi kopulasi.
Keengganan membicarakan hal-hal yang dianggap terlalu jauh malah membuatku semakin menjauh dari relung hatimu yang selama ini kuselami-kuamini. Mata yang menelanjangi dan bibir tipis merah muda dilengkapi hidung dalam takaran tak mengada-ada, ialah kombinasi yang tak mampu kudustai, tuk dikagumi.
Kesalahan di masa lalu terlalu sulit dilupakan meskipun sudah kau coba maafkan. Jalan yang kemudian kita tempuh semakin menguatkan karekter masing-masing. Tanpa diduga kita bersua di persimpangan yang sama, untuk kembali melanjutkan perjalanan ke arah yang berbeda. Sekejap kusadari, mungkin ini yang terakhir sebelum ketegangan-canggung yang menjalari diri bisa perlahan kita pangkas. Kebebasan yang terlihat kekanak-kanakan seharusnya kita rayakan kemudian. Setelahnya kita merasakan langkah ringan dan tawa lepas. Juga jalan-jalan yang kita tempuh tanpa rencana yang jelas serta baju-baju lusuh dan wajah sumringah, menyatu dalam perjalanan panjang yang penuh emosi- memori.

Aku tak pernah terbuka akan suatu hal dan lebih suka mendengar orang lain berbicara tapi tak pernah suka orang yang terlalu banyak bicara. Dan di sela-sela waktu merenung, tidur, membaca dan aktivitas lainnya aku telah menulis beberapa catatan.
1.       23:49 yang gerah. Dalam samarnya neon jalan sayup-sayup dendang Gereja Tua merambat pelan.
2.       Padanya yang selalu bisa membuatku jujur sekaligus tak mampu beranjak.
3.       (Kan). Hangat yang terpampang sebagai bentuk ideal dibenturkan fakta empirik harian. Sunyi memberi-merawat tanpa pamrih, dan tak jua lekas memadu kasih. Menjelang akhir ia hampir putus asa berpikir. Tak ada yang sekaligus bersua dalam takdir. Margot dan Richie memang punya cerita yang belum usai. Begitupun kepak sayap petualangan Mordecai.
4.       (Selasa). Cuaca yang bersahabat. Mendung yang tak jadi hujan. Kipas angin berputar lambat. Sarung bantal lama dipakaikan; wangi, dan Setangkai Anggrek Bulan dilantunkan.
5.       (Di ribaan jalan). Kalkulasi jual beli. Keuntungan yang dipertuanagungkan. Imajii menipu diri. Kehormatan yang diperjuangkan. Sebab pulang ialah kerinduan. Dan tetap di jalanan niscaya kan kesepian. Malam dan waria yang menghangatkan. Muatan dan gaji yang melecahkan. Roda berputar pelan, mengatur strategi hindari pungli. Kawan lama itu menyapa, membelai kepala mesra. Bertukar kabar dan berita. Saling harap jadi kaya dan tak perlu lagi biarkan istri dipeluk tetangga.
6.       Aku Cuma butuh perhatian dan kepedulian dan cinta. Aku gak butuh semua uangmu, Cuma beberapa biar gak mati kelaparan. Aku bisa mencukupi kebutuhan primerku, tanpa perlu jadi hedon apalagi kambing jantannya kaum kapitalis.
7.       Femme fatale dan satu cup pop mie rasa ayam sebelum adzan subuh berkumandang. Pagi yang kepagian kusambut datangnya. Menyisakan hawa sejuk di permukaan tumbuhan. Femme fatale dan merdu kehidupan bumi. Engkau yang jauh dan angkuh. ‘She builds you up to just put you down, what a clown’. –dari Andy untuk Edie, ditulis oleh Lou
8.       (Lewat begitu saja). Aku adalah bukan siapa-siapa di kota ini. Kota yang gersang kini ditumbuhi alang-alang. Dihuni kawanan binatang. Aku bukanlah apa-apa di kota ini. Penikmat terik siang yang tak tahu harus berbuat apa. Melihat sekitar tanpa kepastian. Ingin sesuatu tapi tak tahu apa itu. Lupa waktu terjebak masa lalu. Dibuai harapan merawat ingatan. Merasa hebat padahal tak bermanfaat. Aku siapa di kota ini. Lamunan-lamunan siang hari meredam hawa panas negeri ini. Taring-taring mengoyak daging. Bersilat lidah menoreh luka. Mimpi siang bolong lebih menenangkan, kemenangan yang tertahan. Aku lah orangnya. Orang yang di kota ini membenci segala yang ada. Mensyukuri apa yang diterima. Tak serius dengan pilihan. Sering bercanda dengan sesama ciptaan. Mendapat pelajaran dari ketidaksengajaan. Tertawa riang dalam kesunyian. Mengeluh resah dalam kesibukan. Remuk redam saat penggembalaan. Rindu rumah yang ditelantarkan. Mengisi ruang yang ditinggalkan. Dihimpit gelisah penantian. Ditebas ganas hati tak bertuan. Akulah orang yang; jika marah suka memukul, jika sedih sering tersungkur. Aku ialah mereka yang mengakuiku.
9.       (Mengucapkan selamat tinggal). Pagi ini berkerudung hitam dan bedak tipis di muka. Engkau menyiapkan segenap keberanian untuk kesekian kalinya, untuk sebuah momen pertunukan yang mungkin juga terakhir kalinya. Sebenarnya tak ada yang istimewa darimu selain kecerdasan dan kepercayaan diri. Selebihnya engkau manusia; yang kentutnya bau. Pagi ini gembira dan haru menyelimutiku. Ialah pertunjukan terakhirmu yang menjadi musababnya. Laiknya penari di atas altar penghakiman, ‘diri’-mu lebih terlihat nyata. Busana enak di matadan tutur mengalun rapi selama presentasi hasil karya. Meski karyamu tak sempurna tapi aku salut dengan kegigihan dan kesungguhanmu mengerjakannya hingga kau terlihat begitu menguasai apa yang ada pada fenomena. Kekagumanku tak terhindarkan, kebahagiaan mulai kurasakan, kesedihan mencekik perlahan. Bagimu mungkin tak seberapa, bagiku itu bak pertanda. Bagiku ini telah usai meskipun aku tak pernah memulai. Kecuali, pernah, dulu aku sampaikan sesuatu. Ah, tapi tak usah, dirimu cukup mengetahui saja, bahwa ada pengagum yang tak lekang waktu. Dan kali ini tugasku telah selesai, apa yang telah Tuhan kehendaki telah aku tunaikan. Puisi-puisi yang telah kutuliskan biar kusimpan, bukan aku tak membutuhkan aku hanya tak mau dibuai harapan. Puisi-puisiku biarlah menjelma jadi perilaku dan perkataan yang memuliakanmu. Puisi-puisi itu tak pernah menyimpan kebohongan. Meski sesungguhnya puisi-puisi tersebut fana dan engkau yang abadi. -5/12/16
10.   Orang baik juga pendendam; ketika ia tak mau membalas perlakuan orang lain, lalu dalam hati memohon kepada Tuhan agar memberi balasan yang pantas pada orang tersebut.
11.   (Ingin berkata jujur). Sebelum malam digulir pagi, ada hal-hal yang masih tak pasti. Riak-riak angin malam menawarkan pertemanan. Dan aku yang menanti tak kuasa menyiasati. Diam yang berkelanjutan terlalu naif dibiarkan.


Bukan hanya rendahnya kemampuan mempercayai apa itu hidup namun juga ketidakmampuan untuk menjalani hidup tersebut.