Dua lima belas pagi, menurutnya sebuah lagu bisa jadi pengingat sebuah peristiwa. Setahun sebelumnya, ia adalah pelajar tahun kelima. Diambilnya ujung selimut. Dihembuskannya napas panjang perlahan.
Gosok gigi, kamar mandi, kencing, pasta gigi di celana, burung mengeluh di sangkar, semut terjatuh di bak air, dinding berlumut, klakson truk, sepeda motor saling salip, sebuah mobil mengerem mendadak, ambulans meraung di kejauhan, penjual lotek mengulek dua siung bawang putih, burung gereja, burung pipit, burung kutilang, burung berbah, burung perkutut, ayam berkokok, jalan berliku, sawah di kanan kiri, pohon cemara tinggi-tinggi, gelas tumpah, pesanan datang terlambat, nasi goreng keasinan, rumput tegar di bulan kering, mengayuh sepeda keliling desa, ruko-ruko berjejalan, umpatan di jalanan, kotak persegi adalah dunia baru manusia masa kini, televisi digempur berita selebritis, lagu-lagu berisi keluhan, nostalgia adalah kepedihan, kodok melompat ke kubangan, ikan wader berkejaran di kali, rambutan masak di pohon, paving blok rapuh dilindas mobil, seorang bocah bermain layangan, seorang remaja berjualan koran di perempatan, warnet masih ramai, penjual mie ayam mulai pulang, matahari berangsur hangat, kaos kaki kemaren, bau kaki sepanjang malam, piring-piring belum dicuci, sandal bekas dari masjid, buku basah terkena tumpahan teh hangat, kucing tertidur pulas di atas sajadah, orang-orang berlalu-lalang, awan membisu, langit biru setia menunggu, jalanan lengang, mulut-mulut sibuk mengunyah makan siang, impian-impian sirna, doa buruk terkabul, kesempatan tak ada dua, seorang suci mati dikuliti, mata sembab, hidung tersumbat, kereta api melaju perlahan, penjual jagung rebus mendorong gerobak, seorang ibu menyusui bayinya, sang ayah baru pulang kerja, Rusia membom London, Soviet merangkul Beijing, di Hawai ada tsunami, gempa bumi di Indonesia, es di Kutub berkurang setengah, Timur Tengah bergelora, presiden Amerika keturunan Cina, Meksiko mengimpor ganja dari Aceh, seekor nyamuk mengitari telinganya, pusat perbelanjaan memberi diskon besar-besaran, empat kali empat enam belas, bila sempat dibalas kalau tak sempat berarti kau malas, ke timur jauh kau menyongsong cahaya, di tengah jalan semua tak berwarna, tak ada orang lain, rumah sakit yang dingin, masjid sedih di separuh malam, gereja ramai burung-burung, seorang teman mengalamatkan kesedihan padaku, sepeda beriringan, sekelompok merpati terbang melingkar, luka-luka tak bisa disembuhkan, napas tersengal, kepala butuh rehat, kulitmu mulai gosong, jempol kaki berdarah, kasur robek, selimut bau blacan, dua lima belas pagi.
Kau terbangun, berdoa, dan seorang dengan sinar disekujur tubuhnya menggandengmu menemui simbahmu.