Ada suara yang tak tersampaikan ketika dua orang berbicara.
Percakapan membosankan, jenuh. Ada suara yang tak sempat ditulis ketika dua
orang mulai berpendapat. Mencatat hal – hal berat. Ada suara yang tak
tersampaikan walau sekejap ketika mata memandang mata dua orang yang saling
bersua. Ada suara yang tak tersampaikan meski sudah sampai ditenggorakan ketika
air mata mulai mengalir seperti hujan di bulan desember. Sudah waktunya. Saat
yang semestinya.
Beribu suara lain tak dapat didengar meski sudah disampaikan.
Tak mampu didengar meski sudah lantang diteriakkan. Manusia memang tuli pada
hal – hal tertentu. Pada logika terbalik akan pencapaian kedamaian di muka
bumi, keselamatan yang menghasut. Jutaan suara lainnya dibungkam hingga hanya
terdengar dengungan seperti lebah mencari nektar pada bunga – bunga mekar di
taman.
Pagi, siang, malam, suara – suara itu tetap ada. Kadang
semakin kencang di waktu tertentu. Kadang seperti berbisik. Dan membuatku yakin
suara itu tak pernah diam. Pemiliknya hanya terlalu lelah. Tapi tak cukup lelah
untuk menyerah. Aku pernah mendengar suara seperti itu ketika menuju toilet
sebuah rumah sakit. Seperti lolongan anjing, menyalak, membentak. Tapi kosong.
Hanya suara yang aku tak mengerti pengucapannya. Mirip balita mengucap benda –
benda yang mulai dikenalinya.
Suara itu menyebar. Seperti virus. Terbang, halus, dan dalam
sekejap menghunus. Membunuh pendengarnya dengan sergapan tak kasat telinga.
Samar – samar.
Ada suara yang tak tersampaikan ketika dua orang saling
menatap dibawah naungan halte bus, selasa sore, diminggu pertama bulan
desember.
Suara yang mencekik lidah, melipat bibir, menyumbat
tenggorokan. Suara sepasang sepatu dikeramaian halte bus transmetro menjelang
maghrib. Suara yang terdengar selama lima detik dan berlalu kemudian.
Suara yang, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia jika ditulis
menjadi parau. Pe a er a u, dengan definisi yang aku tak mengerti maknanya.
Mungkin bau tanah basah selepas hujan bisa kuandaikan seperti itu.