Rabu, 02 Desember 2015

Desember



Ada suara yang tak tersampaikan ketika dua orang berbicara. Percakapan membosankan, jenuh. Ada suara yang tak sempat ditulis ketika dua orang mulai berpendapat. Mencatat hal – hal berat. Ada suara yang tak tersampaikan walau sekejap ketika mata memandang mata dua orang yang saling bersua. Ada suara yang tak tersampaikan meski sudah sampai ditenggorakan ketika air mata mulai mengalir seperti hujan di bulan desember. Sudah waktunya. Saat yang semestinya.
Beribu suara lain tak dapat didengar meski sudah disampaikan. Tak mampu didengar meski sudah lantang diteriakkan. Manusia memang tuli pada hal – hal tertentu. Pada logika terbalik akan pencapaian kedamaian di muka bumi, keselamatan yang menghasut. Jutaan suara lainnya dibungkam hingga hanya terdengar dengungan seperti lebah mencari nektar pada bunga – bunga mekar di taman.
Pagi, siang, malam, suara – suara itu tetap ada. Kadang semakin kencang di waktu tertentu. Kadang seperti berbisik. Dan membuatku yakin suara itu tak pernah diam. Pemiliknya hanya terlalu lelah. Tapi tak cukup lelah untuk menyerah. Aku pernah mendengar suara seperti itu ketika menuju toilet sebuah rumah sakit. Seperti lolongan anjing, menyalak, membentak. Tapi kosong. Hanya suara yang aku tak mengerti pengucapannya. Mirip balita mengucap benda – benda yang mulai dikenalinya.
Suara itu menyebar. Seperti virus. Terbang, halus, dan dalam sekejap menghunus. Membunuh pendengarnya dengan sergapan tak kasat telinga. Samar – samar.
Ada suara yang tak tersampaikan ketika dua orang saling menatap dibawah naungan halte bus, selasa sore, diminggu pertama bulan desember.
Suara yang mencekik lidah, melipat bibir, menyumbat tenggorokan. Suara sepasang sepatu dikeramaian halte bus transmetro menjelang maghrib. Suara yang terdengar selama lima detik dan berlalu kemudian.
Suara yang, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia jika ditulis menjadi parau. Pe a er a u, dengan definisi yang aku tak mengerti maknanya. Mungkin bau tanah basah selepas hujan bisa kuandaikan seperti itu.