Mungkin benar kata kebanyakan orang, ucapkan saja
atau sampai tua kau akan menyesal karena tak melakukannya.
Mudah mungkin bagi mereka, paling tidak lebih mudah
daripada aku yang melakukan tindakan itu. Bukannya aku tak mau, bukannya aku
tak sanggup. Aku masih terlalu banyak menimbang.
Sudah banyak cerita tentang kebaikannya. Sudah banyak
pengakuan akan keelokannya. Tidaklah cukup untuk lekas memutuskan. Baru-baru
ini saja aku mendengar kebenarannya, mengenai sikap dan kebiasaan yang dulunya
belum aku tau.
Semakin lama menimbang, semakin ragu. Dan akhirnya
aku memutuskan bertahan, tetap kulakukan usaha meski tak besar namun niatan
akan tujuan yang tidak hanya sekadar keinginan berdekatan ditumbuhkan. Sulit memang
ketika harus menerima hal yang kurang menyenangkan yang ditujukan untuk
ketulusan serta memperbaikinya.
Dari awal aku pertama berbicara padanya, mengenalnya,
berjarak tak jauh darinya. Aku tak berani menatapnya. Merasa rendah diriku. Tak
kusapa karena tak ada keberanian. Sampai sekarang masih berlanjut. Duh,
ibu..maafkan anakmu yang terlalu dini memikirkan pewaris estafet hak
kepengurusanku, yang akan merawatku dan anak-anakku. Tapi bukankah itu naluri
lelakiku. Aku berjanji tak akan mengecewakanmu dan tak akan kupaksakan.
Sekarang aku tak benar-benar mengerti. Selalu berakhir
depresi.
Semoga kisah yang aku sampaikan bukan menjadi
tekanan. Karena ungkapan berguna menurunkan ketegangan.