Rabu, 06 Januari 2016

Jari - jari



Menjadi tak ternilai di antara para penjunjung tinggi nilai – nilai kemanusiaan. Ketuhanan tanpa peran berarti mati suri dalam perjalan suci menuju singga sana abadi. Apakah ini yang disebut sebagai pembuktian diri, pemurniaan atas dosa – dosa lampau umat manusia bahkan dosa yang masih bisa dicegah. Muliakah.
Dalam renungan malam di bawah remang rembulan. Sesuatu yang janggal menyesak  dan tak menyisakan tenang di dada. Aku tahu ada sesuatu. Sekalipun tak berbuat sesuatu. Pertanda itu ada, jika kita peka. Mampu membaca, meraba meski kecil dan terlalu rapuh untuk digenggam.
Tanganmu kasar, otakmu kotor, mulutmu tajam. Semua perangai jahat aslinya kepecundangan diri. Kamu merana orang lain terluka, dia kecewa. Apa ini adil. Atau aku cukup beruntung.
Bingung.
Harus apa dan bagaimana, mengapa dan kenapa. Apa dan apa selanjutnya. Lagipula apa yang terjadi apapun itu penyebabnya tidak tunggal.
Menahan lapar bukan berarti tidak mau makan, menahan lapar menahan amarah. Sarkasme berlebihan. Melankolis keterlaluan. Optimisme tak mengenal batas. Konyol. Hanya itu yang aku tahu. Dan sekadar itu yang menahu. Dan tidak menggunakannya sebagai ujung tombak pengubah rasa.