Menjadi tak ternilai di antara
para penjunjung tinggi nilai – nilai kemanusiaan. Ketuhanan tanpa peran berarti
mati suri dalam perjalan suci menuju singga sana abadi. Apakah ini yang disebut
sebagai pembuktian diri, pemurniaan atas dosa – dosa lampau umat manusia bahkan
dosa yang masih bisa dicegah. Muliakah.
Dalam renungan malam di bawah
remang rembulan. Sesuatu yang janggal menyesak
dan tak menyisakan tenang di dada. Aku tahu ada sesuatu. Sekalipun tak
berbuat sesuatu. Pertanda itu ada, jika kita peka. Mampu membaca, meraba meski
kecil dan terlalu rapuh untuk digenggam.
Tanganmu kasar, otakmu kotor,
mulutmu tajam. Semua perangai jahat aslinya kepecundangan diri. Kamu merana
orang lain terluka, dia kecewa. Apa ini adil. Atau aku cukup beruntung.
Bingung.
Harus apa dan bagaimana, mengapa
dan kenapa. Apa dan apa selanjutnya. Lagipula apa yang terjadi apapun itu
penyebabnya tidak tunggal.
Menahan lapar bukan berarti tidak
mau makan, menahan lapar menahan amarah. Sarkasme berlebihan. Melankolis
keterlaluan. Optimisme tak mengenal batas. Konyol. Hanya itu yang aku tahu. Dan
sekadar itu yang menahu. Dan tidak menggunakannya sebagai ujung tombak pengubah
rasa.