Senin, 11 Januari 2016

Ia masih perempuan yang sama.



Kami tak sengaja bertemu ketika sama – sama sedang sakit. Satu karena terlalu jauh dengan rumah, satu karena jenuh terlalu dekat rumah. Satu ingin duduk tenang menyesap teh hangat ditemani lembayung sore. Satu ingin menyusupi jalanan becek perumahan marjinal perkotaan. Satu memulai berjualan, satu masih dalam tahap mengumpulkan.
Kami berbicara mengenai apa saja, kami menikmati bakso bakar di trotoar pinggir jalan. Membaca kumpulan cerpen di bawah teduh pohon di taman. Menenggak air mineral di dalam bus kota. Membahas cinta di beranda rumah ibadah. Kami memandang awan dengan imaji, jari kami bergerak kesana kemari membentuk jerapah, gajah, juga kelinci.
Kami mulai menatap mata satu sama lain, tanpa rencana. Seperti angin menghembuskan rambut gadis kecil di pangkuan ibunya. Mataku masih menerka dan diam – diam hatiku mulai berencana. Matanya menatap tepat pada pupil hitamku, begitu dalam seolah akulah tertuduh, tersangka yang patut disalahkan akan kejatuhan hatinya meski bukan kali pertama.
Kami tersenyum ketika melihat pak tua mendorong gerobak ciloknya, ikut menyelami ketabahan hatinya, merasakan lelah di kaki – kaki sepuhnya. Kami tertawa menyebarkan remah – remah roti pada burung dara. Kami terharu melihat kesediaan bocah memberikan bangkunya kepada seorang nenek sepulang dari pasar.
Kami meraba sinar matahari yang menembus rimbunnya dedaunan. Merasakan hangat di kulit tangan. Saling menguatkan meski tak bersamaan. Kami saling menuliskan puisi pada lembaran kertas buku harian. Berharap akan selalu ingat iktikad baik yang telah kami agendakan.
Kami berbalas pesan jika obrolan tak memungkinkan. Bertukar kabar untuk melepas kerinduan. Kami selalu dimabuk asmara meski usia memasuki kepala tiga. Bergantian menghirup aroma bunga gardenia. Beserta tanaman lainnya yang menjadi koleksi kami berdua.
Kami masih saja mengagumi apa yang ada pada diri. Walau kerut di wajah sudah mulai muncul menghiasi. Perasaan gandrung tak bisa dipungkiri. Kami menyempatkan waktu sekembali bekerja untuk menyeduh kopi. Kendati pegal – pegal di badan selalu menghampiri.
Kami menempuh perjalanan dengan suka cita. Jalan panjang menjadi ajang memperkaya jiwa. Mengolah rasa agar tidak lupa kodrat selaku manusia. Belajar dan berbagi pada sesama makhluk di dunia. Kami berbuat, bertindak agar tidak lupa karena terlalu lama sekadar menulis saja.
Kami bangga, apa yang telah dilakukan dan berhasil diwujudkan ternyata berguna. Membantu dan meringankan beban lainnya. Tentu tidak lantas membuat kami besar kepala. Apalagi pongah dan terlalu membusungkan dada.
Kami tetap menyapa di pagi buta. Sebelum menjalankan ibadah subuh bersama. Mengingatkan untuk tak lupa berdoa sebelum bekerja. Supaya teguh dan bersyukur atas anugerah yang kami terima. Kami senantiasa memohon kesehatan dan kebahagiaan bagi keluarga.
Kami memprioritaskan apa yang kami suka. Mengerjakan sesuatu yang kami bisa. Tak pernah bosan melaksanakan kegiatan harian. Dari mulai menyapu halaman hingga memotong dahan pohon mangga yang terlihat kelebihan beban. Semenjak membuka mata di pagi hari hingga terlelap di malam hari.
            Kami sama – sama keras kepala. Tapi kami sama – sama suka bau tanah selepas hujan reda. Kami sama – sama suka tiduran di atas rerumputan di halaman pun di taman. Kami sama – sama suka kemegahan senja. Kami sama – sama suka karya Seno Gumira sampai Pramoedya Ananta. Kami sama – sama membuat kopi ketika berdua maupun sendiri. Kami sama – sama punya keteguhan hati. Kami sama – sama tertawa dibecandain semesta.