Kami tak sengaja bertemu ketika
sama – sama sedang sakit. Satu karena terlalu jauh dengan rumah, satu karena
jenuh terlalu dekat rumah. Satu ingin duduk tenang menyesap teh hangat ditemani
lembayung sore. Satu ingin menyusupi jalanan becek perumahan marjinal
perkotaan. Satu memulai berjualan, satu masih dalam tahap mengumpulkan.
Kami berbicara mengenai apa saja,
kami menikmati bakso bakar di trotoar pinggir jalan. Membaca kumpulan cerpen di
bawah teduh pohon di taman. Menenggak air mineral di dalam bus kota. Membahas cinta
di beranda rumah ibadah. Kami memandang awan dengan imaji, jari kami bergerak
kesana kemari membentuk jerapah, gajah, juga kelinci.
Kami mulai menatap mata satu sama
lain, tanpa rencana. Seperti angin menghembuskan rambut gadis kecil di pangkuan
ibunya. Mataku masih menerka dan diam – diam hatiku mulai berencana. Matanya menatap
tepat pada pupil hitamku, begitu dalam seolah akulah tertuduh, tersangka yang patut
disalahkan akan kejatuhan hatinya meski bukan kali pertama.
Kami tersenyum ketika melihat pak
tua mendorong gerobak ciloknya, ikut menyelami ketabahan hatinya, merasakan
lelah di kaki – kaki sepuhnya. Kami tertawa menyebarkan remah – remah roti pada
burung dara. Kami terharu melihat kesediaan bocah memberikan bangkunya kepada
seorang nenek sepulang dari pasar.
Kami meraba sinar matahari yang
menembus rimbunnya dedaunan. Merasakan hangat di kulit tangan. Saling menguatkan
meski tak bersamaan. Kami saling menuliskan puisi pada lembaran kertas buku
harian. Berharap akan selalu ingat iktikad baik yang telah kami agendakan.
Kami berbalas pesan jika obrolan
tak memungkinkan. Bertukar kabar untuk melepas kerinduan. Kami selalu dimabuk
asmara meski usia memasuki kepala tiga. Bergantian menghirup aroma bunga
gardenia. Beserta tanaman lainnya yang menjadi koleksi kami berdua.
Kami masih saja mengagumi apa
yang ada pada diri. Walau kerut di wajah sudah mulai muncul menghiasi. Perasaan
gandrung tak bisa dipungkiri. Kami menyempatkan waktu sekembali bekerja untuk
menyeduh kopi. Kendati pegal – pegal di badan selalu menghampiri.
Kami menempuh perjalanan dengan suka
cita. Jalan panjang menjadi ajang memperkaya jiwa. Mengolah rasa agar tidak
lupa kodrat selaku manusia. Belajar dan berbagi pada sesama makhluk di dunia. Kami
berbuat, bertindak agar tidak lupa karena terlalu lama sekadar menulis saja.
Kami bangga, apa yang telah
dilakukan dan berhasil diwujudkan ternyata berguna. Membantu dan meringankan
beban lainnya. Tentu tidak lantas membuat kami besar kepala. Apalagi pongah dan
terlalu membusungkan dada.
Kami tetap menyapa di pagi buta. Sebelum
menjalankan ibadah subuh bersama. Mengingatkan untuk tak lupa berdoa sebelum
bekerja. Supaya teguh dan bersyukur atas anugerah yang kami terima. Kami senantiasa
memohon kesehatan dan kebahagiaan bagi keluarga.
Kami memprioritaskan apa yang
kami suka. Mengerjakan sesuatu yang kami bisa. Tak pernah bosan melaksanakan
kegiatan harian. Dari mulai menyapu halaman hingga memotong dahan pohon mangga
yang terlihat kelebihan beban. Semenjak membuka mata di pagi hari hingga
terlelap di malam hari.
Kami sama –
sama keras kepala. Tapi kami sama – sama suka bau tanah selepas hujan reda. Kami
sama – sama suka tiduran di atas rerumputan di halaman pun di taman. Kami sama –
sama suka kemegahan senja. Kami sama – sama suka karya Seno Gumira sampai
Pramoedya Ananta. Kami sama – sama membuat kopi ketika berdua maupun sendiri. Kami
sama – sama punya keteguhan hati. Kami sama – sama tertawa dibecandain semesta.