Senin, 04 Januari 2016

Ramones - Baby, I Love You



Sekarang aku bahkan terlalu bingung untuk memberikan alasan yang jelas, penguatan argumen atas keinginan – keinginan yang ada dalam diri. Seperti keanehan pada situasi “pada saat tidak memiliki uang seakan banyak yang akan kita beli, namun ketika kita punya uang seolah kita tidak ingin membeli apapun itu”. Ya, apa yang kemudian terpikirkan dari semua perjalan selama ini, berada di atas dan di bawah sudah dialami tanpa suatu kepastian masa depan dan tanpa dramatisasi. Apakah benar kemudian jika kita memiliki sesuatu atau menikmati sesuatu kita telah berada pada tingkatan sosial tertentu.
Apakah ada yang perduli ketika dirimu mengoleksi ribuan karya musik di kamarmu. Apakah kemudian menjadikanmu referensi bertanya seputar film terbaru karena kau suka menonton film. Apakah ada yang perhatian dengan pakaian yang dibeli selain orang yang mengenalmu. Apakah meminum kopi seharga dua puluh lima ribu mampu mengobati candumu akan itu, atau semacam meminum kopi tanpa gula agar terbiasa dengan kopi berharga mahal di kafe – kafe, bukan karena lidahmu orgasme karena cita rasa pahitnya.
Untuk apa kemudian membeli buku – buku teori saat kuliah kalau skripsi saja bisa menggunakan sumber fotokopian, cukup datang ke perpustakaan, atau paling mudah mengutip dari internet.

Cukup.

Tanyakan bukan apa yang negara sudah berikan padamu tapi apa yang sudah kamu berikan kepada negaramu. Sebesar itu. Untuk negara sekompleks ini. Optimis yang tidak boleh padam karena banyak orang yang menjadi orang karena mewujudkan imajinasi – imajinasinya. Dan banyak juga yang terjebak pada dunia imajinasinya sendiri, dan itu tidak apa – apa, karena itu dia manusia.

Ini pernyataan pengangguran yang belum bekerja tapi terdengar angkuh namun nyata, “kadang bosan juga hanya tidur telat bangun siang, begadang, nonton film, mendengarkan lagu atau menonton video lewat situs youtube, dan lain sebagainya”. Benar kadang terasa membosankan apalagi kalau tidak punya uang, ya dijaman ini uang sudah lebih dari cukup ketimbang beras atau roti. Namun ketika sudah mulai terbawa arus kesibukan jam kerja bukankah kita juga mungkin rindu, rindu akan masa – masa menganggur saat itu, saat ini.
Lalu pada suatu ketika kamu membaca sesuatu, dan terlihat ada yang sudah biasa menjadi pola tulisan tersebut, orang seperti sudah mulai biasa menulis komentar mengenai perilaku atau apa yang dipunyai pun dilakukan orang lainnya. Seolah mereka mengabaikan selera dan berbagai macam alasan pendukung kenapa orang – orang mau melakukan hal – hal itu. Bahkan tak jarang penulis merasa dirinya paling benar, paling tidak, beranggapan apa yang dilakukan orang lain itu makruh. Seperti yang tertuang di paragraf kedua dan ketiga di atas.
Seperti membeli baju yang terlintas pertama ialah, bagaimana ia akan terlihat atau tepatnya dilihat orang lain. Membeli baju yang dipertimbangkan ialah bagaimana tanggapan orang lain terhadap baju dan ketika ia mengenakan baju tersebut. Sekarang memang terlalu rumit untuk sekadar memakai sarung ke pusat perbelanjaan.

Sekali lagi dunia itu rumit, bahkan tak jarang menakutkan jika mendengar khotib khutbah ibadah jumat. Duduk dengan menyandarkan tangan kiri ke belakang itu kebiasaan Yahudi. Dan semakin banyak penceramah yang topik khutbahnya hanya seputar Muslim jangan meniru kebiasaan Yahudi. Yang kemudian kemarin malam saya sadari mengenai kasus ini ketika membaca sebuah tulisan dengan salah satu simpulan menarik yaitu, kenapa para penceramah tidak menyinggung mengenai bagaimana zaman nabi ilmu itu sangat berperan dan dengan itu orang – orang Islam mencapai zaman keemasannya. Spesifiknya, kenapa mereka tidak membahas mengenai bagaimana tata kelola lahan pertanian, atau agar hastag melawan asap yang seolah musiman bisa dimusnahkan. Bukankah Islam juga mencakup semua, bukan sekadar muslim dan kafir. Hemat saya, kalau ini berlanjut tentu mereka yang menurut para penceramah nasrani dan yahudi yang akan menguasai (sudah menguasai) dunia, dan kita yang muslim terpaksa mengikuti sistem mereka, dan kita ikut – ikutan menjadi kafir karena mengikuti mereka. Mungkin saya juga kafir karena menulis seperti ini.
Bahkan kemudian kita terlalu takut karena ada neraka. Kita yang tidak tahu kapan ajal menjemput ketakukan api neraka, ada juga yang biasa saja mengenai keberadaan neraka. Beberapa yang tahu akan adanya neraka malahan secara luwes berbuat seolah neraka tidak ada tidak seperti yang sehari – hari mereka ucapkan, sampaikan. Sampai – sampai para setan pun dibuat kagum dengan polah kita yang bahkan diluar kemampuan mereka yang seharusnya lebih pantas menjadi penghuni abadi neraka.
Jikapun ada yang percaya surga, mereka bahkan lupa bahwa Ia hanya meminta kita menjadi khalifah yang baik di muka bumi, agama untuk memperbaiki akhlak manusia bukan hanya sebatas surga – neraka. Jika begitu, skripsi sudah benar diagungkan sekaligus direkayasa, atau kata lainnya dibuat dengan seksama dengan tanpa sepengetahuan pengujinya asal kelar bagaimanapun caranya. Kembali lagi saya menjadi komentator ulung. Tapi bukankah mengomentari sejatinya timbul karena kita iri, atas ketidakmampuan kita mendapatkan sumber daya atau materi seperti yang orang lain punya. Kurang lebih.

Jalan hidup memang berliku, berbeda, setiap manusia punya selera berbeda, bahkan adapun yang membuat grup berdasarkan hobi atau kesukaan di sisi lain mereka juga memiliki selera – selera lain pada hal – hal yang lain. Kompleksitas manusia membutuhkan pemahaman komperehensif, seperti juga beragama agar tidak terjebak nostalgia.
Apa yang kemudian mampu kita utarakan sebagai sesuatu yang pas atas pernyataan mengenai hal – hal apa yang mampu kita berikan tentu saja bukan kepada negara jika kita rakyat biasa meski katanya beberapa hal kecil sudah cukup membuktikan kontribusi positif kita kepada negara. Seperti tidak membuang sampah sembarangan. Dan sekali lagi masih menurut pendapat saya, ketika ada kesempatan memberikan sesuatu kepada orang – orang terdekat, semisal kakak, adek, ibuk, bapak, atau yang agak dekat seperti teman – teman, dan lain sebagainya, maka jangan sampai menyesal karena tidak sempat melakukannya.

Karena saya sedang masa mendekat kepada orang – orang dekat. Menganggur dimasa produktif. Mengomentari cerminan diri sendiri. Mencibir perspektif orang lain menggunakan logika terbatas. Membenci sesuatu yang tak kita tahu. Saya bahkan tak tahu harus mengakhiri dengan kalimat seperti apa.