Sekarang aku bahkan terlalu
bingung untuk memberikan alasan yang jelas, penguatan argumen atas keinginan –
keinginan yang ada dalam diri. Seperti keanehan pada situasi “pada saat tidak
memiliki uang seakan banyak yang akan kita beli, namun ketika kita punya uang
seolah kita tidak ingin membeli apapun itu”. Ya, apa yang kemudian terpikirkan
dari semua perjalan selama ini, berada di atas dan di bawah sudah dialami tanpa
suatu kepastian masa depan dan tanpa dramatisasi. Apakah benar kemudian jika
kita memiliki sesuatu atau menikmati sesuatu kita telah berada pada tingkatan
sosial tertentu.
Apakah ada yang perduli ketika
dirimu mengoleksi ribuan karya musik di kamarmu. Apakah kemudian menjadikanmu
referensi bertanya seputar film terbaru karena kau suka menonton film. Apakah
ada yang perhatian dengan pakaian yang dibeli selain orang yang mengenalmu.
Apakah meminum kopi seharga dua puluh lima ribu mampu mengobati candumu akan
itu, atau semacam meminum kopi tanpa gula agar terbiasa dengan kopi berharga
mahal di kafe – kafe, bukan karena lidahmu orgasme karena cita rasa pahitnya.
Untuk apa kemudian membeli buku –
buku teori saat kuliah kalau skripsi saja bisa menggunakan sumber fotokopian,
cukup datang ke perpustakaan, atau paling mudah mengutip dari internet.
Cukup.
Tanyakan bukan apa yang negara
sudah berikan padamu tapi apa yang sudah kamu berikan kepada negaramu. Sebesar
itu. Untuk negara sekompleks ini. Optimis yang tidak boleh padam karena banyak
orang yang menjadi orang karena mewujudkan imajinasi – imajinasinya. Dan banyak
juga yang terjebak pada dunia imajinasinya sendiri, dan itu tidak apa – apa,
karena itu dia manusia.
Ini pernyataan pengangguran yang
belum bekerja tapi terdengar angkuh namun nyata, “kadang bosan juga hanya tidur
telat bangun siang, begadang, nonton film, mendengarkan lagu atau menonton
video lewat situs youtube, dan lain sebagainya”. Benar kadang terasa
membosankan apalagi kalau tidak punya uang, ya dijaman ini uang sudah lebih
dari cukup ketimbang beras atau roti. Namun ketika sudah mulai terbawa arus
kesibukan jam kerja bukankah kita juga mungkin rindu, rindu akan masa – masa
menganggur saat itu, saat ini.
Lalu pada suatu ketika kamu
membaca sesuatu, dan terlihat ada yang sudah biasa menjadi pola tulisan
tersebut, orang seperti sudah mulai biasa menulis komentar mengenai perilaku
atau apa yang dipunyai pun dilakukan orang lainnya. Seolah mereka mengabaikan
selera dan berbagai macam alasan pendukung kenapa orang – orang mau melakukan
hal – hal itu. Bahkan tak jarang penulis merasa dirinya paling benar, paling
tidak, beranggapan apa yang dilakukan orang lain itu makruh. Seperti yang
tertuang di paragraf kedua dan ketiga di atas.
Seperti membeli baju yang
terlintas pertama ialah, bagaimana ia akan terlihat atau tepatnya dilihat orang
lain. Membeli baju yang dipertimbangkan ialah bagaimana tanggapan orang lain
terhadap baju dan ketika ia mengenakan baju tersebut. Sekarang memang terlalu
rumit untuk sekadar memakai sarung ke pusat perbelanjaan.
Sekali lagi dunia itu rumit,
bahkan tak jarang menakutkan jika mendengar khotib khutbah ibadah jumat. Duduk
dengan menyandarkan tangan kiri ke belakang itu kebiasaan Yahudi. Dan semakin
banyak penceramah yang topik khutbahnya hanya seputar Muslim jangan meniru kebiasaan
Yahudi. Yang kemudian kemarin malam saya sadari mengenai kasus ini ketika membaca
sebuah tulisan dengan salah satu simpulan menarik yaitu, kenapa para penceramah
tidak menyinggung mengenai bagaimana zaman nabi ilmu itu sangat berperan dan
dengan itu orang – orang Islam mencapai zaman keemasannya. Spesifiknya, kenapa
mereka tidak membahas mengenai bagaimana tata kelola lahan pertanian, atau agar
hastag melawan asap yang seolah
musiman bisa dimusnahkan. Bukankah Islam juga mencakup semua, bukan sekadar
muslim dan kafir. Hemat saya, kalau ini berlanjut tentu mereka yang menurut
para penceramah nasrani dan yahudi yang akan menguasai (sudah menguasai) dunia,
dan kita yang muslim terpaksa mengikuti sistem mereka, dan kita ikut – ikutan
menjadi kafir karena mengikuti mereka. Mungkin saya juga kafir karena menulis
seperti ini.
Bahkan kemudian kita terlalu
takut karena ada neraka. Kita yang tidak tahu kapan ajal menjemput ketakukan
api neraka, ada juga yang biasa saja mengenai keberadaan neraka. Beberapa yang
tahu akan adanya neraka malahan secara luwes berbuat seolah neraka tidak ada
tidak seperti yang sehari – hari mereka ucapkan, sampaikan. Sampai – sampai
para setan pun dibuat kagum dengan polah kita yang bahkan diluar kemampuan
mereka yang seharusnya lebih pantas menjadi penghuni abadi neraka.
Jikapun ada yang percaya surga,
mereka bahkan lupa bahwa Ia hanya meminta kita menjadi khalifah yang baik di
muka bumi, agama untuk memperbaiki akhlak manusia bukan hanya sebatas surga –
neraka. Jika begitu, skripsi sudah benar diagungkan sekaligus direkayasa, atau
kata lainnya dibuat dengan seksama dengan tanpa sepengetahuan pengujinya asal
kelar bagaimanapun caranya. Kembali lagi saya menjadi komentator ulung. Tapi
bukankah mengomentari sejatinya timbul karena kita iri, atas ketidakmampuan
kita mendapatkan sumber daya atau materi seperti yang orang lain punya. Kurang
lebih.
Jalan hidup memang berliku,
berbeda, setiap manusia punya selera berbeda, bahkan adapun yang membuat grup
berdasarkan hobi atau kesukaan di sisi lain mereka juga memiliki selera –
selera lain pada hal – hal yang lain. Kompleksitas manusia membutuhkan
pemahaman komperehensif, seperti juga beragama agar tidak terjebak nostalgia.
Apa yang kemudian mampu kita
utarakan sebagai sesuatu yang pas atas pernyataan mengenai hal – hal apa yang
mampu kita berikan tentu saja bukan kepada negara jika kita rakyat biasa meski
katanya beberapa hal kecil sudah cukup membuktikan kontribusi positif kita
kepada negara. Seperti tidak membuang sampah sembarangan. Dan sekali lagi masih
menurut pendapat saya, ketika ada kesempatan memberikan sesuatu kepada orang –
orang terdekat, semisal kakak, adek, ibuk, bapak, atau yang agak dekat seperti
teman – teman, dan lain sebagainya, maka jangan sampai menyesal karena tidak
sempat melakukannya.
Karena saya sedang masa mendekat
kepada orang – orang dekat. Menganggur dimasa produktif. Mengomentari cerminan
diri sendiri. Mencibir perspektif orang lain menggunakan logika terbatas.
Membenci sesuatu yang tak kita tahu. Saya bahkan tak tahu harus mengakhiri
dengan kalimat seperti apa.