Sabtu, 09 Januari 2016

Sebut saja.



Aku hanya ingin menyebutnya. Post power syndrome. Ketika tak berdaya dihadapan dunia. Dihadapan kenyataan. Kelimpungan dengan segala perubahan. Kaget dengan cepatnya pertukaran. Singkat teramat. Hanya dinikmati sesaat. Mendaur ulang kembali. Menjadi baru lagi, naik pamor. Terkenal lalu hilang. Siklus hidup yang begitu cepat. Hari yang begitu berat. Selesai segera. Pagi yang sejuk segera menjadi sore yang hangat. Malam gelap tergesa menyambut panas siang. Tanah basah menguap mengering dibulan januari. Sepi. Rindu. Sumringah. Lega. Sehat. Demam. Sakit kepala. Sakit perut. Kenyang. Mie instant rebus ditambah cabe rawit juga enak. Semuanya, dari yang kecil, remeh – temeh hingga yang besar yang menuntut banyak usaha sekaligus tanggung jawab dan resiko yang sama besar. Tak berdaya, tetap tertawa. Dikutuk masih tersenyum sewaktu mengantuk. Berlalu dengan cepat. Yang lalu terlupakan, sekarang segera layu.
Mungkin masih sanggup mengeja, meraba. Namun tidak dihadapan tikus berkepala hitam pemuja kapital. Modal – madul mengimbangi percepatan. Bolong, berlubang, tembel sana – sini. Belum cukup sampai hakikat diri direbut. Tak ubahnya kita robot,  pengonsumsi segala, pemakai barang buatan mereka, penikmat dunia maya, penyembah kesenangan semu semata.