Aku hanya ingin menyebutnya. Post power syndrome. Ketika tak berdaya
dihadapan dunia. Dihadapan kenyataan. Kelimpungan dengan segala perubahan.
Kaget dengan cepatnya pertukaran. Singkat teramat. Hanya dinikmati sesaat.
Mendaur ulang kembali. Menjadi baru lagi, naik pamor. Terkenal lalu hilang.
Siklus hidup yang begitu cepat. Hari yang begitu berat. Selesai segera. Pagi yang
sejuk segera menjadi sore yang hangat. Malam gelap tergesa menyambut panas
siang. Tanah basah menguap mengering dibulan januari. Sepi. Rindu. Sumringah. Lega.
Sehat. Demam. Sakit kepala. Sakit perut. Kenyang. Mie instant rebus ditambah
cabe rawit juga enak. Semuanya, dari yang kecil, remeh – temeh hingga yang
besar yang menuntut banyak usaha sekaligus tanggung jawab dan resiko yang sama
besar. Tak berdaya, tetap tertawa. Dikutuk masih tersenyum sewaktu mengantuk. Berlalu
dengan cepat. Yang lalu terlupakan, sekarang segera layu.
Mungkin masih sanggup mengeja,
meraba. Namun tidak dihadapan tikus berkepala hitam pemuja kapital. Modal –
madul mengimbangi percepatan. Bolong, berlubang, tembel sana – sini. Belum cukup
sampai hakikat diri direbut. Tak ubahnya kita robot, pengonsumsi segala, pemakai barang buatan
mereka, penikmat dunia maya, penyembah kesenangan semu semata.