Sabtu, 20 Mei 2017

102

Silakan saja kalian mengadu pada teman atau orang yang dipercaya. Hanya, seperti yang kubilang, setiap manusia punya kapasitas untuk mengkhianati manusia lainnya, meski dalam pikiran dan hati bukan dalam ucapan dan tindakan. Silakan saja kalian jujur kepada orang lain, namun jangan sampai tak jujur pada diri. Sebab tak ada yang peduli pada dirimu, selain dirimu sendiri.

Selama perilaku manusia masih berorientasi materi makin mudah setiap mereka digerakkan dalam kegiatan yang bertujuan menaikkan derajat sosial. Lalu benarkah manusia adalah makhluk sosial ataukah manusia adalah makhluk yang tak bisa hidup tanpa bantuan manusia lainnya?

Sejak kapan manusia mempertimbangkan kepentingan manusia lainnya sebelum ia membuat suatu keputusan? Dan kenapa manusia hidup dalam bayang yang lain.

Pada akhirnya hanya ada dua perspektif dalam menjalani hidup ini; aku menjadi bagian hidupmu atau kamu menjadi bagian hidupku.

Sejarah ialah masa lalu dan masa kini yang segera melaju menuju masa depan dan semua tinggal sejarah di masa yang entah lagi hingga kapan.

Jenny=Fstvlst berujar :
Tentang benda-benda yang engkau punya dan engkau banggakan
Tentang gaya hidup yang kau kenakan dan bahkan kini engkau tuhankan
Tentang kekinian yang selalu saja engkau bicarakan
Tentang status dan posisi tawarmu di penglihatan orang-orang
Jangan harap itu bisa mengesankanku dan menjatuhkanku
Atas nama dunia yang engkau pikir telah dan selamanya akan kau genggam
Tentang nama besar yang engkau sandang dan engkau busungkan
Tentang seberapa pintar dan cemerlangmu di penglihatan orang-orang
Tentang satu dua tiga peperangan yang pernah kau menangkan
Kalimat menjatuhkan yang jadi sering engkau ucapkan kau hujamkan
Jangan harap itu bisa mempercepatmu dan mengejarku
Atas nama dunia yang engkau pikir telah kau punya
Dan atas nama segalanya yang engkau kira telah dan selamanya akan kau genggam
Seratus dua puluh sekian masih kan menambah kecepatan, kecepatan dan tak akan bisa kau kejar
Jangan harap itu bisa mempercepatmu dan mengejarku
Atas nama dunia yang engkau pikir telah kau punya
Dan atas nama segalanya yang engkau kira telah dan selamanya akan kau genggam
Seratus dua puluh sekian masih kan menambah kecepatan


Kenapa dianjurkan berdoa dan juga berusaha, sedangkan masih ada perih dalam tatapan kosong pedagang mie tektek yang tiap malam mendorong gerobak dengan kaki-kaki rentanya.

Kenapa diajarkan menjadi sejahtera, sedangkan masih ada lelah dalam kayuhan pedal sepeda penjaja kacang rebus juga pengumpul kardus dan botol plastik di jalanan.

Kenapa diberi contoh berbagi, sedangkan dalam naungan halte transmetro seorang tua tak tahu lagi harus pulang apatah berteduh kemana.

Kenapa harus berilmu jika yang kau urus hidupmu melulu?

Untuk apa logika dihadapkan dengan rasa?

Kenapa berkomunitas tapi tak bertetangga?


Kenapa mesti hidup jika nanti mati?

Untuk apa hidup jika kelak mati. Lalu apa guna punya kuasa memilih dan mengolah raga, pikir, rasa, jika hanya sementara. Tak ada yang abadi. Lalu buat apa kau cipta ini semua?

Mengapa kau biarkan manusia menindas manusia dan kau tak acuh ketika manusia saling suka.

Kenapa kau ciptakan adam dengan hawa?

Kenapa manusia hidup bersama, tidak sekadar berpasang-pasangan saja?

Kenapa ada miskin ada kaya, ada benci ada suka, ada tangis ada tawa.
(Ada yang punya kesempatan menjadi lebih kaya dan banyak juga yang tak sanggup meningkatkan kesejahteraan hidup. Sebab struktur di masyarakat yang tidak memungkinkan.
Wacana, rencana, perjuangan tindakan untuk kehidupan lebih baik bukan untuk nama-nama.
Sejak kapan manusia jadi serigala bagi manusia lainnya.
Apa saja alasan manusia membantu manusia lainnya:
  • Berharap imbalan-Nya
  • Agar dianggap baik oleh lainnya
  • Memuaskan hasrat kepahlawanan
  • Agar dibantu juga olehnya kalau sedang sulit
  • Mendapat untung materil
  • Karena manusia tersebut memang butuh dibantu
  • Karena manusia tersebut ingin membantu)


Kamilah makhluk sempurna! Sesempurna gelisah dalam tanya tentang apa, mengapa, bagaimana. Tak ada jawab, kecuali jika mau mencarinya. Sempurna. Usaha, kerja. Lalu doa? Bukankah kerja juga sebentuk doa?

Siapaku ragukanmu adalah pertanyaan oleh-Mu padaku.

Jika konsensus adalah sebuah upaya agar hak hidup manusia lain tidak dirusuhi, mengapa nafsu menjadikan manusia lain lebih disegani?

Pada akhirnya kita akan jadi pupuk tanah-tanah gersang. Menjadi makanan cacing, sendirian, kedinginan. Maka apa salahnya tidur di bawah buaian hangat matahari pukul sepuluh pagi. Carpe diem katamu, beribadah, dan jadilah manusia. Akan tetapi tidur seharian juga tak perlu disayangkan dalam rentang umur yang singkat katanya.

Tidurlah, tidurlah jangan takut tak bangun lagi. Selagi cukup makan dan minum, tidurmu menyenangkan.

Dan sementara akan kututup dengan paragraf ini:

                Kami mungkin seperti Nuh yang mencipta bahtera dan mengisinya dengan hal-hal yang kami suka. Tapi tidak terjadi banjir. Dan tabung gas lima kiloan yang tersambung dengan kompor yang kami nyalakan meledak, dan membakar habis kami dan hal-hal yang kami sukai.