Jumat, 14 Oktober 2016

Migunani Marang Liyan

Berangkat dari keresahan untuk membahagiakan kedua orang tua tersayang dan lalu terbayang bisakah mendapatkan sang perempuan pujaan serta khawatir apakah aku bisa menjadi orang tua yang baik dan pantas untuk anak-anakku kelak. Memberikan yang sudah menjadi hak mereka, tanpa perlu mengikut sertakan anak-anak untuk bekerja, membantu kerja dan sejenisnya. Memberi kesempatan mereka hanya untuk belajar dan bermain. Kadang impian itu muncul dan selalu indah, tapi tak bisa menampik kenyataan bahwa di luar sana banyak orang tua yang untuk membelikan susu buah hatinya saja susah. Mereka yang tinggal di rumah-rumah sempit, yang anak-anaknya terpaksa ikut mencari biaya makan (dan lain-lain) keluarganya. Hal itu membuatku tak berhenti berprasangka, apakah dua orang yang menikah itu benar-benar mempertimbangkan apa-apa yang bakalan mereka hadapi, termasuk pendidikan anak-anaknya. Atau mereka hanya menyatukan hubungan agar halal (secara agama yang dianutnya), dan berharap bahwa usaha mereka akan menghasilkan keberkahan berupa rejeki yang cukup untuk membiayai kebutuhan harian mereka asalkan mereka selalu berprasangka baik pada Pencipta.
Rasa penasaran seperti itu yang menyita perhatian dan malahan menjadikanku khawatir berlebihan. Penasaran itu juga aku tujukan pada para pekerja pabrik tekstil dari dusunku. Para buruh pabrik ini ada yang masih lajang, ada yang sudah beristri, ada yang sudah punya buah hati. Mereka bekerja berdasarkan jadwal yang telah ditentukan, bisa jadi mereka akan berangkat pagi-pagi berbarengan dengan mbok-mbok yang mau jualan di pasar. Di lain waktu, mereka pergi ketika mayoritas penduduk dusun sudah terlelap. Bisa juga mereka akan berangkat bersamaan dengan waktu anak-anak sekolah menengah pulang ke rumah. Dengan seragam yang rapi, mereka akan menunggu bus jemputan. Aku penasaran, apa yang menjadi impian mereka sebenarnya, dan kenapa mereka bisa menjadi buruh pabrik. Ada yang perlu ditekankan disini yaitu terma bisa pada kalimat sebelum ini. Apakah bisa itu karena terpaksa, bisa sebab mereka berusaha untuk itu, atau bisa karena memang itu pekerjaan yang mereka bisa, dan barangkali hanya itu yang mereka bisa. Apakah mereka punya impian semisal memiliki mobil Volkswagen combi yang digunakan untuk menyusuri pantai selatan pulau Jawa, impian untuk bisa ke stadion San Siro bersama orang terkasih, keinginan untuk menjadi dosen, dokter, pilot, menaklukkan puncak-puncak gunung se-Nusantara, atau mungkin ingin menjalankan ibadah haji bersama kedua orang tua. Aku penasaran bagaimana mereka mengatur waktu ketika di rumah, waktu yang digunakan untuk tidur, beribadah, mengaji, bersih-bersih, memasak, menonton tivi, mengobrol dengan orang tua atau anak-anak mereka dan saudara juga para tetangga. Aku penasaran apakah para pekerja itu juga punya impian; anak-anak mereka kelak bisa menjadi orang-orang kaya, yang punya rumah gedongan, mobil merci, sapi beberapa puluh ekor, dan sebidang lahan yang subur ditanami kates. Atau mereka hanya mengharapkan anak-anak mereka menjadi siswa-siswa yang rajin di sekolah, lancar membaca alquran, tepat waktu menjalankan shalat lima waktu, dan tidak punya keinginan khusus anaknya akan berprofesi sebagai apa nantinya. Aku penasaran apa yang mereka pikirkan ketika berjalan dari luar rumah ke tempat penjemputan dan sambil menunggu bus datang. Dan apakah mereka mengkhawatirkan kehidupan.
Selain para buruh pabrik, aku juga penasaran dengan mereka para perempuan yang hanya menjadi ibu rumah tangga. Ibu-ibu yang kesehariannya mengurus anak-anak, memasak di dapur, menikmati sinetron dan mengikuti gosip terkini para selebriti, ibu-ibu yang kadang pergi ke kebun, sering ke pasar untuk berbelanja, tak jarang berhutang di warung tetangga, ibu-ibu yang ketika pagi mengantar anak-anaknya ke depan gerbang sekolah dan menjemputnya kembali saat siang, ibu-ibu yang mengikuti kegiatan arisan RT, ibu-ibu yang ikut pengajian, dan sering mengumpul di salah satu rumah tetangga mengobrol entah apa, bisa jadi masakan mereka yang terlalu asin, resep membuat roti biar bisa mengembang dengan baik dan tidak keras, atau -ehem- bagaimana biar suami-suami mereka lebih betah di rumah selepas bekerja bukan malah ngumpul di poskamling hingga larut hanya untuk main catur atau kartu remi. Padahal, para suami ini sejatinya juga sedang melepaskan penat dengan saling bercanda dan menyesap rokok ditemani segelas kopi tubruk seadanya. Aku penasaran, apakah ibu-ibu yang bangunnya lebih pagi daripada anggota keluarga yang lain, keinginan sewaktu sekolah atau sebelum menikahnya sudah terwujud. Atau jika belum bagaimana mereka berdamai dengan hasrat tersebut. Bagaimana mereka bisa (bahkan dengan senang hati) menjalankan aktivitas menimba di sumur saat masih subuh, memasak nasi dan sayur dengan tungku untuk sarapan suami dan anak-anak tercintanya, juga kegiatan mencuci pakaian sekaligus menyetrikanya.
Aku penasaran dengan para tetangga, apakah mereka pernah bermimpi suatu hari nanti akan menjadi salah satu anggota pembasmi korupsi. Aku penasaran apakah mereka khawatir jika anak-anaknya kelak hanya menjadi penjual bakso keliling, tukang tambal ban, petani cabai atau kates kecil-kecilan, atau hanya penjual berbagai jajanan anak dan sabun-sabun juga rokok di rumahnya. Aku juga penasaran apakah mereka menginginkan anak-anaknya menjadi pak camat, bupati, pak gubernur, atau bahkan presiden.
Aku masih penasaran, apakah ketika para tetangga beraktivitas mereka kepikiran berita yang disiarkan di tivi-tivi, tentang kontroversi Ahok dalam penafsiran surat Al-Maidah ayat 51, mengenai sidang Jessica, pencalonan Anies Baswedan sebagai Gubernur Jakarta, atau ada yang peduli mengenai kasus Yuyun, hilangnya Wiji Thukul, Reklamasi Teluk Benoa, banjir Garut, dirilisnya iphone7, bom di Suriah, dan berita-berita mengenai tim-tim sepakbola dari Eropa sana, Milan, Madrid, Emyu, dan sebagainya.
Aku penasaran apakah anak-anak dusunku ada yang terinspirasi novel Laskar Pelangi, atau terpesona dengan karya Pramoedya Ananta, juga terharu membaca cerpen-cerpen Seno Gumira. Apakah mereka juga mendengerkan DDH, FSTVLST, Pure Saturday, TPOBPAH dan lain sebagainya. Apakah mereka kagum dengan sosok Monkey D. Luffy dan Naruto serta Sasuke.

Ya pertanyaan-pertanyaan itu kuyakin tak mudah terjawab walaupun aku membuat angket wawancara dan berkeliling dari rumah ke rumah selama sebulan. Tapi apa sesungguhnya yang membuat mereka atau kita tetap teguh menjalani hidup yang tak tahu kenapa kita bisa, harus, dan bagaimana hidup itu. Perihal hidup memang tak mudah ditafsirkan dengan satu dua pernyataan. Namun, satu yang aku yakini; jika kita hidup maka kita akan mati. Hidup itu sendiri silakan cari definisinya secara mandiri. Lalu, benarkah jika kita hidup kita baiknya melakukan apa-apa yang merupakan hal baik yang telah menjadi kebiasaan orang-orang di sekitar kita. Apakah harus memiliki tujuan, jika ya, maka apa yang seharusnya menjadi tujuan utama kita. Kaya, terhormat, mulia, sehat, sejahtera, sederhana. Bagaimana orang-orang menentukan yang menjadi tujuan hidupnya. Sebelumnya kita ganti istilah tujuan dengan pencapaian. Ya, apa-apa saja yang orang itu ingin capai dalam hidup ini, yang ingin mereka raih, rengkuh, miliki, gapai, atau apapun itu yang dapat membuatnya merasakan hidup yang ‘hidup’. Membuat mereka bahagia, puas, dan cukup. Bahagia dengan tindakan yang telah mereka lakukan selama hidup, puas dengan capaian dalam hidup, dan cukup dengan apa-apa yang telah mereka punyai, miliki, serta jalani.
  Menjadi siapa sekarang yang mungkin tak pernah mereka bayangkan ketika masa kanak-kanak, apakah perlu disesali atau disyukuri. Bagaimana mereka bisa mencapai itu, bagaimana mereka bisa membiarkan waktu membawa mereka sampai kesitu, bagaimana mereka tetap tegar dengan keadaan yang mereka hidupi itu. Bagaimana bisa orang lain menganggap seseorang itu kekurangan sedangkan yang bersangkutan selalu saja merasa berkecukupan. Salahkah menjadi yang sekarang, yang mana mayoritas yang lain tidak pernah menginginkan. Atau kebanyakan yang lain hanya terbersit keinginan untuk melakukan namun mereka terlalu sibuk dan selalu tak memprioritaskan keinginan tersebut.
Apakah para buruh pabrik punya keinginan untuk menjadi seperti petani kates, apakah mbok-mbok penjual di pasar punya keinginan menjadi ibu guru sekolah dasar, apakah seorang guru sekolah menengah punya keinginan menjadi ibu-ibu penjual jajanan dan aneka macam bumbu dapur serta sabun-sabun di teras depan rumah, apakah mbak-mbak freshgraduate punya keinginan untuk menjadi ibu-ibu yang setiap pagi mengantar anak-anaknya ke sekolah dan siangnya menjemput anak-anak lalu ketika sore dengan setia menyapu halaman sambil memperhatikan anak-anaknya bermain pasar-pasaran atau bal-balan, apakah mas-mas yang setiap malam begadang di pos ronda punya keinginan untuk menjadi penceramah di masjid ketika shalat jumat, apakah adek-adek itu punya keinginan untuk menjadi pesepakbola profesional dan bermain untuk tim semacam Emyu, Madrid, Barca atau Milan.
Atau adakah dari mereka yang hanya ingin menjadi peternak kambing yang kesehariannya nitip makan dari satu rumah ke rumah lainnya, dan bermimpi suatu ketika bisa ziarah ke Mekah naik kambing-kambing kesayangannya. Menjalani profesi apapun dengan keyakinan dan keteguhan lalu menyerahkan masa depan kepada Pemilik Hidup.
Ambil contoh Ki Ledjar Subroto yang memilih jalan menjadi pendalang wayang kancil. Entah apa saja yang pernah Ki Ledjar dapat dari kesenangannya mendalang wayang kancil. Menjalaninya dalam beberapa dekade, setia dan itulah keputusannya. Sama halnya Pak Raden, pencipta tokoh Si Unyil. Mereka menjadi mereka yang kita kenal sekarang dengan perjuangan yang tak semua tahu bagaimana dan mengapa mereka kekeuh dengan keputusannya. Tapi berapa banyak peluang yang mereka buang atau tutup setelah mereka memutuskan suatu hal. Bagaimana mereka begitu yakin, apakah keputusan itu mereka buat dengan mempertimbangkan keuntungan-keuntungan materil belaka. Ataukah ada yang lainnya?.
Menjadi tukang tambal ban, penjual mie ayam, penjual bubur pagi-pagi yang murah meriah, menjadi supir yang akan merasa puas bila dapat membantu tetangga yang membutuhkan diantar kemana saja, cukup dengan apa yang ia dapat, penghasilan yang cukup untuk membeli lauk bagi kedua orang anaknya, menjadi ibu rumah tangga yang selalu cakap memberikan makanan yang tak saja bergizi bagi anak-anaknya pun juga santapan yang membuat otak-pikiran-jiwa anaknya bahagia. Haruskah mereka menjadi yang lainnya atau seharusnya mereka bisa menjadi yang lainnya. Bagaimana kalian menyadarinya. Apakah kalian menerimanya.
Sebanyak-banyaknya pilihan untuk bekerja sebagai apa, di mana, kapan, dan dengan siapa, apakah orang-orang benar-benar sadar dan berkeinginan sesuai dengan apa yang dikerjakan sekarang. Ataukah mereka hanya menjalani, bekerja dan berusaha dengan tujuan utama bahagia sekaligus membiarkan diri terbawa ke keadaan dan kondisi yang tak pernah sempurna; menuai hasil yang telah mereka usahakan sebelum-sebelumnya dengan lapang dada, mengutuki diri dan menyatakan bahwa apa yang menimpanya ialah musibah akibat ketamakannya, tersenyum dengan perasaan lega karena apa yang menimpa dianggapnya sebagai ujian dari empunya.

Segala pengaruh yang membuat orang-orang ini tetap berdiri, dan teguh dalam menghidupi diri akan terlalu rumit jika dijabarkan. Untuk itulah orang sering memandang kuantitas kehidupan seseorang hanyalah permukaan yang nampak, dan di dalamnya masih jauh tak terjamah bahkan sebagian enggan untuk menguliknya; sibuk dengan diri masing-masing. Perhitungan yang mereka gunakan berdasarkan pengetahuan juga pengalaman meski tak jarang curang, menurut mereka sebuah kebaikan yang wajar. Tak jarang menceburkan diri ialah kemampuan yang mereka miliki dan kesempatan yang harus dimaksimalkan agar tak ikut hancur bersama kapal yang ditumpanginya. Lain halnya bila dari mereka yang menjadikan kecurangan sebagai alat utama mendapatkan kehormatan, dan juga kekayaan yang bahkan mayoritas tak merasakan keberadaannya. 

Jika sudah begini bagaimana kita menjalani dan menjadi diri sendiri dalam lingkaran hidup manusia agar tetap bermanfaat dan dapat saling menguntungkan?

Menimbang untung-rugi dalam sebuah hubungan, laiknya perjuangan yang pantas kita lakukan bila tak hati-hati akan melenakan. Menyebabkan hubungan hanya melandaskan keuntungan. Dan jika tak ada keuntungan maka kita ditinggalkan atau meninggalkan. Tentu saja sah dilakukan sebab interaksi yang melandasi sebuah hubungan juga berintikan pertukaran. Apakah sepadan apa yang telah diberikan dengan apa yang kita dapatkan. Ataukah kekhawatiran yang terus membayangi apabila tak mampu membalas apa yang telah orang lain berikan.
Di sisi lain, terdapat jalinan-jalinan kuat meski apa yang mereka korbankan tak seimbang secara kasat mata. Ya, mungkin orang-orang tersebut beranggapan bahwa apa-apa yang mereka lakukan kepada yang lain ialah apa-apa yang orang lain butuhkan dan mereka sendiri inginkan. Tak peduli seberapa banyak yang mereka terima akhirnya, mereka akan merasakan kepuasan dari kebersamaan yang telah dibangun dan diperjuangkan sedemikian rupa sehingga masing-masing mereka rela mengorbankan nyawa bagi lainnya.
Inilah yang namanya pertemanan. Pencarian jati diri ialah aktivitas berteman dengan orang-orang yang sesuai-pantas dalam kejujuran. Teman bisa kita jumpai punya kesamaan hobi, kesamaan waktu dan tempat saat berkegiatan, teman di tempat kerja, teman belajar, berdebat, lomba, dan lainnya. Namun ada juga teman yang bahkan akan saling membela meski jelas-jelas salah. Teman seperti kata seorang teman ialah orang yang tertawa bersama dalam ketulusan.
Boleh saja kita berteman meski sering tak merasakan kenyamanan, sebab menjaga hati orang lain tetap senang juga dianjurkan, dan berbuat jahat kepada orang lain tak diajarkan karena lebih banyak kita tak tahu-menahu mengapa orang lain tega berbuat sesuatu terhadap yang lain. Dan andai kita tahu, maka sebagai pihak yang tahu bertindaklah sesuai apa yang kita tahu.
Sebab tak banyak yang kita kenal di muka bumi ini, dan kita hanya perlu berbuat baik kepada yang lainnya.
Dan, agak berbeda dengan fenomena pertemanan umumnya; apabila ada ketertarikan di antara dua manusia berbeda jenis kelamin lalu mereka menjalin sebuah hubungan dengan tujuan memuaskan nafsu birahi, pada titik itu meneguhkan bahwasanya manusia juga binatang, dengan gairah mengawini. Binatang hidup untuk bereproduksi, melestarikan jenisnya dalam keseimbangan hayati. Maka bagaimana kita mengawini yang lain dengan tidak saja bertujuan reproduksi namun lebih kepada relaksasi ialah pembeda. Pembeda inilah yang oleh pihak-pihak tertentu dijadikan komoditas untuk dipertukarkan, yang disesuaikan dengan penawaran-permintaan. Akan tetapi, pembeda ini jua yang kemudian menjadi bibit tumbuh kembangnya sebuah lembaga yang kadang-kadang bias atau bahkan tak segan mengurangi hak-hak dari para penganutnya. Lembaga yang melegalkan kepemilikan dan menghindarkan diri dari kecemburuan, bayangkan jika orang yang dikawini tadi malam, hari ini sedang kawin dengan orang lain yang bahkan tak pernah dikenalnya. Ya, asal ada imbalan yang pantas tentu itu sah-sah saja. Pertanyaannya apakah jika kita menjadi bagian yang lain dari itu sanggup bertahan dalam kesendirian, sebab satu-satunya yang berhak kita miliki dan keruk keindahannya ialah apa yang nyawa kita tempati saat ini.
Perihal imbalan dan pertukaran, tentu sudah sering kita alami. Melakukan sesuatu, bekerja, mengerjakan tugas sekolah, menyapu lantai rumah, mengedit makalah, dan masih banyak lagi ialah bentuk aktivitas yang layak mendapat imbalan. Tenaga dibalas uang. Atau di masa lampau orang bertukar garam dengan asam, tanpa uang sebagai acuan. Sekarang, uang menjadi ukuran. Pekerjaan disesuaikan dengan uang, bukan kebutuhan. Tapi wajar sebab beberapa dari mereka memang layak mendapat balas jasa berupa setumpuk uang atas kemampuan yang tidak semua orang bisa. Menggilanya balas jasa juga dengan mudah menjalari lingkungan pendidikan. Para pengajar sekarang mengerjakan proyek layaknya pekerja, mereka bisa disebut sebagai pendidik yang cari aman. Barangkali, mereka bahkan tak mendidik, lebih sekadar memenuhi kewajiban dan lalu bekerja seperti orang kantoran lainnya. Hanya mereka mendapat tunjangan hari tua. Tapi apa mau dikata, semua yang membutuhkan tenaga ialah kerja. Lalu apa bedanya dengan para penjaja yang menawarkan jasa pemuasan gairah bersenggama?.