Selasa, 17 Mei 2016

Hikayat Anak Pak Tani



Tersembunyi di lipatan-lipatan lemak manusia kolot, perlahan menyayat kulit.
Terhimpit di ketiak basah manusia resah, tiada rasa sakit menjangkit.
Di ruas-ruas jalan protokol di kota ini, yang ruwetnya sama dengan rimbun lebat rambut gimbalnya.
Ia sibuk mencaci diri di hadapan cermin spion bekas motor matik kumaha.
Bertanya dan terus bertanya, kenapa oh kenapa.
Sinis memandangi yang lain lalu lalang, ia menyeru namun tak ada yang mendengar.
Ia teriak sekalipun, tak terdengar.
Ia diam dan menulis, mereka mulai melirik.
Ia menggambar, orang menoleh.
Ia melukis, yang lain teralihkan.
Ia kemudian menari, dan seluruh kota mengikuti.

Ia gembira dan dalam waktu bersamaan heran, orang macam apa yang kerjanya menari-nari setiap hari. Tanpa rasa haus, lapar, lelah, ngantuk. Ia heran, ia menari di dalam selimut, yang lain tetap mengikuti, namun ia memelankan tarian, yang lain stagnan, lalu ia mematung. Dan yang lain menggila. Ia heran, ada apa gerangan. Ia putus asa, lalu tidur. Keesokan harinya makin banyak yang menari, ia melihat berita, disiarkan di televisi. Ia masuk koran, ia dilagukan, ia tokoh dalam novel. Ia terkenal, kaya, mendunia, ia gila. Ia punya uang, setumpuk, segudang, ia mandi dengan uang, ketika berak ia ganti tisunya dengan uang dua ribuan. Ia melancong ke Paris dan Milan, tak lupa ke London. Dua minggu penuh, makan kerang mentah, makan pizza, makan otak sapi, minum anggur putih, bir, juga kopi luwak. Ah, ia teringat sesuatu. Luwak dulu banyak di kampungnya, mencuri anak-anak ayam, memakan kates di pekarangan rumahnya, menggerogoti pisang-pisang juga. Seandainya ada pohon kopi di rumahnya kali ini, ia ingin ada luwak disitu. Biar ia bisa minum kopi tanpa bayar, tapi ia bingung, bagaimana membersihkan biji-biji kopi dari tai luwak, bagaimana ia membersihkan tai-tai luwak dari biji kopi, menyusahkan. Ia kaget dari lamunan, ketika Diego Costa menjebol gawang Petr Cech. Ya, malam itu ia menyaksikan pertandingan sepakbola di negeri sepakbola, sebuah pertandingan di liga terbaik di eropa, di dunia.
Pulang ke kotanya, ia melipat muka, kusut, ia tak mandi selama di eropa, ia kedinginan.
Ia lelah, ia mulai bosan.
Wajahnya di mana-mana, di bungkus-bungkus gorengan, di majalah wanita, di baliho acara, di poster-poster.
Ia heran, ia dipuja oleh yang tak dikenalnya. Ia menjabat tangan yang tak pernah sebelumnya ia tahu namanya. Ia tersenyum kepada wajah-wajah riang di hadapannya.
Di sebuah koran harian, ia membaca sebuah artikel tentangnya;

“Sebelumnya tak ada yang mengenal dirinya, ia kurus dengan kulit coklat kotor, dengan rambut tak pernah tersentuh air, ia sekarang  menjadi buah bibir di kota ini. Ada yang bilang ia dulu terlihat sering tidur di emper-emper ruko jalan ikhlas. Beberapa perempuan sering melihatnya di depan pasar guma, ada pemuda pernah melihatnya di halte bus di jalan taqwa. Tak ada yang tahu siapa nama aslinya, pemerintah kota pun bergeming ketika dimintai pendapatnya, walikota berpendapat yang penting ia taat membayar pajak. Saat ini, ia dikabarkan sedang plesiran ke eropa, siapa yang menyangka ia menjadi terkenal. Berawal dari video amatir yang diunggah ke media sosial, ia semakin terkenal. Jogetnya lucu, kata anak-anak, menurut pemerhati dari salah satu bidang di Dinas Sosial, ia ialah antitesis masyarakat kekinian yang hidup seperti robot, mengalir dari rutinitas ke rutinitas, seperti tanpa kebahagiaan, terlihat murung setiap pagi, tanpa semangat hidup setelah pulang kerja. Namun hal itu masih menjadi perdebatan, siapakah yang berhak mengukur kebahagiaan seseorang di kota ini, dan apakah benar ‘ia’ ialah manusia terbahagia di kota ini. Satu yang jelas, ia semakin kaya, uangnya di bank-bank di luar kota. Hanya saja ada satu keanehan, ia tak memiliki mobil mewah, ah padahal biaya parkir dan pajak tak seberapa untuk orang sekaya dirinya. Ferrari, Lamborghini, Jaguar, Mercedes, ia sanggup untuk mengoleksi masing-masing lima dari tiap pabrikan, tapi ia tak melakukan, entah apa motivasinya. Desas-desus berhembus, ia masih mabok kalau naik mobil, bukankah ada produk bernama antamo?. Biarlah, karena toh sekarang ia menikmati kehidupan barunya, ia masih lajang, baru dua puluh sembilan. Orang tuanya sudah berhaji dan berumah nyaman di kampung di pinggiran ladang persawahan di kaki gunung sana. Ia masih sendiri, ia baik hati, ia sering memberi dan menawarkan pekerjaan bagi teman-temannya di jalanan dulu. Pantaslah orang-orang dari Dinas Sosial sangat akrab padanya, rupanya angka kemiskinan kota ini semakin berkurang, tak terlihat lagi gepeng, anak jalanan, pengamen, bahkan angka kriminalitas juga turun. Orang lebih banyak menonton televisi sambil makan marning. Hidup terlalu rumit untuk dijabarkan dalam sebuah kolom koran bukan. Dan ia, mungkin tak mengenaliku lagi”.


Ia kaget, ketika membaca kalimat terakhir, ia penasaran, siapa kira-kira yang menulis artikel di koran itu. Siapa dia, apakah ia mengenalnya, apakah ia pernah bertemu atau berbicara padanya. Ia segera mengutus orang untuk menemui pemimpin redaksi koran tersebut, untuk mencari tahu siapa penulisnya sebab tak ada nama yang jelas tertera pada akhir tulisan itu.
Ia mengingat-ingat masa lalu, kejadian masa silam, namun ia masih tak menemukan jawaban.


***

Pagi-pagi buta lelaki itu terbangun gara-gara suara pasar yang semakin riuh, pedagang menjajakan sayuran, tempe, ikan, ada juga yang menjual teh hangat, bakwan, lotek, dan bubur. Lelaki itu menyusuri emper-emper ruko melewati pasar menuju sebuah halte, bukan karena terganggu dengan ributnya peluit tukang parkir, cuma tak tahan menghirup aroma bakwan dan bubur serta teh hangat. Dalam pikiran lelaki itu, ada dua surga baginya, surga yang kata orang-orang ada di ujung cakrawala sana, dan mulut tirus yang terisi dengan suapan bubur dengan bakwan adalah surga yang satunya. Hampir lima tahun lelaki itu hidup terlunta-lunta, dari emperan ruko melewati pasar lalu ke sebuah halte, itu-itu saja orbit sang lelaki. Di bulan kesembilan tahun terakhirnya, lelaki itu bermimpi didatangi seorang ‘gila’. Laki-laki dalam mimpinya berambut kribo, celana cutbray, kaca mata hitam besar, kumis lebat, dan baju juga celana berwarna biru metalik. Laki-laki dalam mimpinya berkata, menyanyilah karena Tuhan telah memberikan kita suara, menulislah biar tak terlupakan, menggambar atau melukislah agar semakin nyata dan abadi, menarilah karena kau bahagia.
Semenjak bermimpi aneh seperti itu, sang lelaki mulai bernyanyi dari emperan ruko melewati pasar sampai ke halte. Ia bernyanyi sendiri, tak ada orang lain yang peduli.
Lalu lelaki itu juga menulis di jalanan dari emperan ruko melewati pasar sampai ke halte. Menggunakan kapur, arang, cat, dan apapun yang bisa digunakan untuk menulis yang didapatkan dari tempat-tempat sampah. Selesai menulis sang lelaki merasa diperhatikan.
Lelaki itu menggambar, dari emperan ruko melewati pasar sampai ke halte dan merasa tak sendiri, begitupun ketika melukis kambing-kambing dan sapi-sapi kurus di atas kanvas yang terbuat dari sisa-sisa kain mori yang dijumputnya dari suatu sudut pasar.
Satu hari, sang lelaki itu menari dari emperan ruko melewati pasar sampai ke halte. Lelaki itu menari tanpa henti, orang-orang heran namun tak terganggu, beberapa menganggapnya lucu. Sejak hari itu sang lelaki rajin menari dan mendapatkan surga duniawi setiap pagi. Lelaki itu semakin giat menari, semakin lincah, atraktif, menghibur. Anak-anak bolos sekolah, pegawai tak masuk kerja, di tempat-tempat ibadah tak ada lagi yang berkhutbah, pedagang meraup untung besar kalau berjualan di sekitar lelaki itu. Banyak yang ikut menari, semakin hari semakin banyak, bertambah banyak, hingga satu kota hafal tariannya, herannya mereka tak pernah bosan. Lelaki itu menari, mereka juga menari. Setiap hari.