Kali ini saya akan menulis tentang film. Ya, sebuah gambar
bergerak dengan durasi yang cukup lama. Menarik memang ketika bisa melihat
seseorang memerankan diri sebagai orang lain dengan latar belakang, alur, dan
tempat yang telah diskenariokan secara pas. Sampai disini anggaplah yang saya
bahas ialah film-film yang memang berkualitas, pun membekas. Di hati tentunya
bukan di pipi, soalnya itu ditampar namanya. Nah, sebuah film menurut saya
dibagi dua jenis, biarkan saya menuliskan alasan saya terlebih dahulu sebelum
terburu-buru meng-klik tanda ‘x’ di pojok kanan atas layar. Dibagi dua yaitu,
yang pertama ialah film yang merangkum sebuah kisah panjang, maksudnya adalah
di dalam film tersebut kisah yang ditampilkan bukan sekadar terjadi hanya
katakanlah setengah hari pun seminggu, namun bisa berbulan-bulan bahkan
bertahun-tahun, dan di film tersebut kemudian dipertontonkan sejumlah adegan
yang total waktunya kurang lebih hanya dua jam saja. Jenis yang kedua adalah
film yang di dalamnya menggambarkan kejadian yang sebenarnya juga tidak terlalu
berbeda jauh waktu tempuh cerita -di dalam film tersebut- dengan durasi film
yang ditonton atau bahkan lebih singkat. Mengertikah dengan penjelasan
tersebut, jika tidak mari kita mengobrol langsung, selain saya bisa menjelaskan
lebih panjang dan lebar sampai mulut berbusa –bukan karena sianida tentunya-,
juga akan memperhangat hubungan yang sudah lama kita jalin ini. Ah sudahlah.
Film memang dapat memberikan sensasi sesaat setelah
menontonnya, bisa senang, sedih, termotivasi, terhakimi, tertipu, tergalaukan,
terhantui, juga bisa mengingatkan pada hal-hal yang ah begitulah. Mbelgedesh
kalau katanya.
Di dalam pemutaran sebuah film tentu akrab dengan lelagu,
nyanyian dan tembang atau musik jika mau menyebutnya dengan lebih mudah. Musik
dimainkan untuk mendukung sebuah adegan agar terlihat lebih drama, eh, lebih
hidup. Meski tak semua, sebab ada juga film yang sunyi, senyap, tanpa backsound
dan hanya teriakan-teriakan lirih pemerannya saja. Tak perlu saya sebutkan
contohnya bukan. Musik sudah barang tentu ampuh untuk membantu mengingat adegan
favorit di dalam sebuah karya film. Itulah yang lebih penting untuk kita bahas.
Mendengarkan musik selayaknya yang menjadi soundtrack sebuah
film umumnya, bisa membuat saya mengingat atau tidak sengaja ingat akan hal-hal
yang sudah saya alami, pernah saya lakukan, jalan yang pernah saya lewati,
tempat yang pernah saya kunjungi, makanan yang pernah saya santap, orang yang
pernah saya temui, juga suasana yang selalu saya resapi. Begitulah musik, selalu
bisa membawa saya berwisata tanpa mengeluarkan dana untuk keperluan
transportasi. Membuat kepala yang riuh, sesaat dengan mudah saya sibakkan
ilalang-ilalangnya sehingga saya mampu menyusuri memori silam dengan tenang,
tersenyum, kadang menggebu, tak jarang tertunduk lesu.
Musik jika saya boleh bilang hanya salah satu jalan di antara
kemungkinan yang tak terhingga untuk menyatu dengan yang ada di bumi dan di
langit. Ketika mendengarkan musik -mungkin hanya berlaku bagi saya-, kepala
terasa lebih bebas, pikiran yang membentuk imaji menimbulkan berjuta kemampuan
memerankan diri di dalam sebuah adegan film hingga terkadang membuat lupa diri.
Sebab hal itu sebatas imaji, tapi bukankah imaji juga dibutuhkan, setidaknya
akan dipandang sebagai kemampuan untuk mencari celah menghibur diri tanpa perlu
berteman tanpa ada unsur paksaan.
Musik jualah yang membawa saya
ke tepian jurang, menatap awan-awan rendah dengan deru angin yang menggerakkan
pohon-pohon cemara, menimbulkan suara seperti auman, suara jeritan. Di tepian
jurang itu juga terlihat petak-petak kebun yang daun-daunnya nampak hijau entah
tanaman apa yang ada disana. Dari tepian jurang itulah sebuah danau luas di
bawahnya terlihat mengkilat, kadang biru, kadang putih tertutup kabut. Mungkin itulah
maninjau, kelok empat puluh empat dan puncak lawang yang dingin. Pada tahap ini
saya sepertinya ingin bermukim di daerah tersebut. Namun saya selalu gagal
membendung ketakutan akan seekor makhluk yang tiba-tiba muncul dari dalam danau
tersebut. Makhluk semacam labi-labi sebesar ruko kokoh penjual kopi hitam,
tanpa tempurung dengan leher panjang dan memakan orang-orang atau membawanya ke
samudera hindia melewati lubang di tengah-tengah danau tersebut. Sebenarnya itu
alasan saja, karena saya tidak bisa berenang, dan fobia air yang dalam dan
keruh/ tidak terlihat dasarnya.
****
Baiklah, sekarang saya bahas mengenai kasus yang menyita
perhatian saya saja. Yah, Yuyun. Saya tidak mau menganilisis terlalu dalam
terkait dugaan-dugaan kenapa para pelaku tega melakukan itu. Pun mengenai ‘kita’
masyarakatlah yang bertanggung jawab atas pelecehan seksual terhadap perempuan,
dan terlebih anak-anak. Saya beberkan kata kuncinya saja dan hal ini masih sebatas
dugaan; nafsu, miras, pengawasan dari masyarakat termasuk juga penanaman
nilai-norma dari keluarga, pengaruh teman sebaya, aktualisasi diri atau
mempertunjukkan kemampuan, dan sekolah. Oke, semua berperan terhadap
pembentukan perilaku para pelaku, namun mana yang lebih berperan besar saya
belum tahu. Mengenai miras, lagi-lagi saya masih sepaham, bahwa niat lebih
menentukan. Walaupun saya juga tidak menghalalkan dan mengonsumsi miras kecuali
es batu.
Menarik kemudian, kasus ini terangkat ke publik setelah
hampir sebulan kejadian, dan yang lebih menjadi daya tarik ialah tak hanya perempuan
yang mengutuk tindakan keji tersebut, laki-laki yang notabene memiliki rasa
kebersamaan tinggi di antara kaumnya juga tak sedikit yang bersuara,
mengutarakan pendapatnya tentang kasus ini. Lagi-lagi sosial media menjadi alat
dan sarana penting dari terangkatnya kasus tersebut di atas. Saya tidak
mengkhususkan hanya Yuyun yang selanjutnya akan terus disorot. Namun lebih dari
itu, menurut asumsi saya, laki-laki kekinian sesungguhnya sudah mulai sadar
akan perannya sebagai laki-laki di hadapan perempuan. Terlepas dari pemahaman
feminis yang juga semakin tersebar, pun kukuhnya budaya patriarki yang mulai
diadaptasikan terhadap perkembangan zaman (teknologi, ilmu pengetahuan,
finansial dan lainnya). Laki-laki kini, jika masih melihat rok mini untuk
ukuran pantas tidaknya diajak berhubungan apapun itu bentuknya, maka terlihat
terlalu rendah pola pikirnya. Betul rok mini juga berdampak, tetapi kan yang
lebih penting isinya. Eh maksud saya isi kepalanya. Perempuan juga seperti itu,
kekekaran tubuh mungkin akan membuat mereka mudah luluh, tapi yang kekar-kekar
sekarang banyak penyuka sesama kekar. Bukan begitu. Perempuan sebagai obyek
seks, memang betul, jika melihat film porno. Akan tetapi hidup tidak sesimpel
itu; saling lirik, belai, raba, dan seterusnya. Bahkan untuk mencapai sebuah
klimaks dalam berhubungan badan, butuh pengenalan luar dalam, kenyamanan,
keindahan, ketertiban, kebersihan, kesejukan, kelembutan, kekerasan,
kepiawaian, kepercayaan serta ke-ke yang lainnya. Beberapa lelaki yang mengutuk
pelecehan seksual tetap saja menganggap perempuan sebagai obyek seksual. Akan
tetapi hanya perempuan tertentu yang memang secara sadar melakukannya untuk
lelaki tersebut, jadi mereka bukan kucing kampung yang sembarang ikan asin
mereka sikat. Mungkin pendapat saya terlalu subyektif, dan tidak melampirkan
data, tapi jika berkenan meluangkan waktu silakan kunjungi laman-laman terkait
yang lebih kredibel. Sebab saya menulis masih berdasarkan pendapat pribadi. Mohon
dimaklumi.
Begini saja, kita alihkan perhatian sebentar ke karya Gus
Mus, yang berjudul “Kau Ini Bagaimana
Atau Aku Harus Bagaimana”. Dan inilah interpretasi saya mengenai puisi tersebut:
Kau (lelaki) ini bagaimana, atau aku (perempuan) harus
bagaimana. Lelaki ini bagaimana, perempuan disuruh bekerja, perempuan sudah
bekerja disebut tidak mengurusi anak-anaknya. Lelaki ini bagaimana, perempuan
disuruh mengasuh anak-anak, masih juga disuruh diam saja karena lelaki yang
cari nafkahnya. Perempuan harus bagaimana, mengasuh anak, membereskan urusan domestik,
kok ya lelakinya hanya ongkang-ongkang cuci mata. Perempuan harus bagaimana,
katanya disuruh mendidik anak dengan baik, tetapi lelaki malah memberi contoh
yang seenak udelnya. Lelaki ini bagaimana, perempuan pakai rok mini digodai,
giliran lelaki pakai celana mini gak mau dibilang banci. Lelaki ini bagaimana,
perempuan satu gak habis-habis, sudah mau cari lainnya. Perempuan harus
bagaimana, daripada jadi perawan tua, lebih bagus terima lamaran saja. Perempuan
ini bagaimana atau lelaki harus bagaimana.
NB: Teror Bom Sarinah, Salim Kancil, Gerhana Matahari Total,
Pelangi LGBT, Reklamasi Jakarta, Kartini Rembang, Saipul Jamil, Gafatar, Kopi
Mirna, Gojek, Abu Sayyaf, Penggusuran Kalijodo, Korban 1965, Pulau Buru,
Siyono, Penangkapan Orang Papua, Torabika Soccer Championship, Leicester Juara Epl, Madrid vs Atletico,
Juventus Juara Lima Kali Beruntun, Pemecatan Mihajlovic, Rio Haryanto, Pesta Rakyat UGM, Yuyun, Sebentar Lagi Ramadhan.