Rabu, 13 Juli 2016

Urip kui penak.

Bagaimana jadinya hidup tanpa tertawa. Sehari tanpa senyum. Pagi hari lengkap dengan syukur, malam tiba disambut dengan doa. Mau jadi apa kalau dua puluh empat jam dalam sehari, empat jam saja bisa merasa bahagia. Apa yang membuat hati jadi gembira, jiwa tenang dan jarang menggerundel. Mata yang ramah, lidah yang halus, hati yang bestari.

Sedang hidup masih saja tak dapat menghindari kata tapi, sering menyangkali, menafikan meski sudah dinyatakan.