/1
Sore itu aku
baru kembali dari mengajar, ketika sepucuk surat dengan amplop bawaan kantor
pos tergeletak di ambang pintu.
Peluh membasahi tubuh. Maklum tempatku
mengajar tidaklah terlalu jauh, jadi sepeda menjadi kendaraan utamaku untuk
mencapainya. Sore itu matahari bersinar terik namun tak cukup menyengat. Aku
segera membuka surat itu setelah mengelap keringat di kening dan tengkukku. Tak
segera kubaca, sengaja untuk mengamati dimana nama penulis surat berada,
sialnya tak kutemukan. Ini menggelikan, selembar kertas binder hanya berisi
lima baris kalimat. Apa salahnya kirim pesan via email atau kalau perlu sms
saja pikirku. Bisa-bisanya alamat rumah tahu tapi nomor kontak handphone tak
punya.
Halo yang jauh
dan menjauh disana. Demikian kalimat pertamanya. Aku heran, seingatku, aku tak
pernah berusaha menjauhi seseorang, tidak ada diwaktu sekarang tidak pula di
masa lalu. Apalagi berencana di masa mendatang, pastilah suatu kerugian ketika
kita menjauhi orang lain untuk apapun alasannya. Bayangkan, bukankah memutus
silaturahmi itu dosa yang besar yang telah tertulis di Quran dan sering
disampaikan dalam ceramah-ceramah keagamaan pun kemasyarakatan. Tiba-tiba aku
merasa takut akan kemungkinan terburuk yang pernah aku lakukan. Siapakah dia,
apa yang telah aku lakukan padanya, apakah aku sejahat ini. Seketika
pertanyaan-pertanyaan itu muncul ketika tersadar sesaat usai membaca kalimat
pertama surat tersebut.
Aku
merindukanmu, masih kuingat hangatnya peluk tubuhmu, manisnya bibirmu yang tak
pernah menghisap rokok, juga segores luka di kulit dada kirimu, luka yang
selalu kuusap sebelum kita terlelap. Aku tercekat. Aku tidak ingat pernah tidur
dengan seorang perempuan manapun, terlebih dalam keadaan bugil, apalagi dengan lelaki. Memang aku
sering bertelanjang dada jika kegerahan, namun untuk tidur aku bahkan selalu
memakai selimut. Sebentar kuletakkan kertas berisi lima baris kalimat di atas
meja bundar yang terbuat dari kayu. Kugeser meja tersebut mendekati jendela di
sebelah ranjang tidurku, lalu kuambil kursi dan kuletakkan di sampingnya.
Sebelum kulanjutkan membaca aku menyempatkan menyeduh kopi sachet yang kubeli
kemaren di warung Mak Ijah. Aku duduk di samping jendela dengan teralis besi,
membelakangi ranjang tidurku, kusesap kopiku, lalu kulihat sinar matahari sore
yang menerangi tanaman di bagian belakang kontrakanku. Kuambil kertas surat
tersebut, dan aku kembali mengingat apa saja yang pernah aku perbuat. Dalam
dudukku yang khusuk sembari mengangkat cangkir berisi kopi, tiba-tiba aku
teringat ia. Ya, dia yang masih di kota yang sama bahkan ketika aku menjadikan
kota tempat tinggal dan mengajarku sekarang sebagai destinasi ketiga. Perempuan
dengan rambut kuncir ekor kuda, kulitnya yang tak terlalu putih, badannya tak
lebih tinggi dariku, tidak berisi hanya saja berbentuk. Bentuk yang selalu
kuingat selama aku masih berstatus anak Sma. Tersadar ternyata aku sudah
terlalu lama tidak menghubunginya, terakhir kudengar kabar tentangnya ketika
aku masih semester tiga di perguruan tinggi di pulau seberang. Aku selalu suka
caranya memanggil namaku, lebih-lebih saat keringat membasahi wajahnya, baik
ketika berolahraga maupun ketika menyantap makanan di kantin. Aku masih ingat
gerak-gerak bibirnya ketika membaca novel di perpustakaan sekolah, atau cara
beridirinya saat disuruh membaca buku di kelas atau menjawab pertanyaan dari
guru. Juga kaki-kakinya yang lincah sewaktu bermain basket. Ah, perempuan itu
meskipun tak terlalu pandai pelajaran favoritku namun nilai matematikanya
selalu di atasku. Ingin rasanya kutampar bibirnya yang tak seberapa itu dengan
bibirku, akan tetapi bibirnya telah dihalalkan oleh teman sebangkuku di Sma.
Kadang hidup memang terlihat seperti kebetulan-kebetulan tanpa alasan.
Aku tahu, kamu
pasti lupa. Pada bagian ini aku sontak berteriak, tentu saja aku lupa. Ah,
rupanya masih koma. Selanjutnya. Namun aku tidak pernah bisa melupakanmu begitu
saja, ucapan selamat malam sebelum aku tidur masih menggema di telingaku,
kalimat selamat pagi sayang masih terngiang. Setelah membacanya aku tertawa,
aku kipikir orang ini hanya mengada-ada. Aku terpingkal, sebab selama ini yang
pernah kukirimi ucapan selamat malam dan selamat pagi sayang hanyalah si
Kaliko. Ya, kucing betina yang dulu kutemukan di dekat kampusku kuliah. Kucing
belang tiga yang kini telah beranak tiga, belang-belang tiga pula tiga-tiganya.
Kaliko namanya, aku ambil dari bahasa Jepang yang jika ditulis menggunakan
huruf abjad menjadi Calico, dan aku membacanya kaliko. Yang mana jika diartikan
dalam dunia perkucingan kurang lebih dimaknai sebagai seekor kucing yang
mempunyai tiga jenis warna rambut. Aku tak habis pikir, dari siapa dan untuk
siapa surat ini sebenarnya, sampai-sampai mebuatku tertawa mengeluarkan air
mata. Dugaanku mengenai sang pengirim surat yaitu Kaliko membuatku terpingkal
sekali lagi. Baik betul Tuhan kali ini, gumamku dalam hati. Memberiku teman
yang dengan setia berbagi tempat tidur denganku. Bahkan rela dan mau tinggal
dan menetap bersamaku untuk waktu begitu lama tanpa status hubungan yang tak
lebih sebagai seorang teman. Sesaat aku merasakan haru.
Kini aku sudah
hamil tua, sembilan bulan tepatnya, jika kamu menduga jenis kelaminnya maka
jawabnya sama sepertimu, lelaki dan untuk itulah aku ingin meminta pendapatmu
mengenai nama yang akan kuberikan pada calon anakku, aku ingin nama yang sama
denganmu untuk anakku. Kalimat panjang itu membuatku mengumpat. Dia pikir dia
siapa, tiba-tiba datang dengan surat yang isinya hanya ingin meminta ijin
menggunakan namaku sebagai nama anaknya. Apakah namaku betul-betul unik hingga
kamu ingin menggunakannya untuk menamai anakmu, gumamku lirih sambil kembali
menyesap kopi yang masih hangat. Dan bagaimana pula kamu bisa menemukan orang
yang mempunyai nama seperti yang kau inginkan untuk menamai anakmu. Ataukah
kamu salah seorang pekerja BPS yang secara teliti menyortir nama-nama penduduk
kota ini yang banyaknya hampir mencapai angka tiga juta jiwa. Lalu mengirimi
mereka surat seperti ini serentak sekaligus, dan berharap mereka dengan senang
hati akan mengiyakan bahkan mendoakan keselamatan kelahiran anakmu kelak. Jika
ya, sungguh suatu kasus ngidam yang unik.
Aku tidak mau
menamainya dengan nama bapaknya yang telah memutuskan lari bahkan sebelum
pernikahan kami digelar, tapi bukan karena itu aku ingin menamainya sama dengan
namamu, aku ingin anakku kelak selalu bergembira, layaknya dirimu Ranjana.
Untuk kali pertama aku merasakan kepedihan yang terakhir kurasa bertahun-tahun
lamanya. Kertas yang kupegang sedari tadi basah oleh tetesan air mata, sore
yang sedari tadi hangat seketika membuatku kedinginan. Aku beranjak cepat
membuka lemari pakaian, dan mengambil sebuah liontin dari dalam kotak bekas
wadah biskuit khongguan. Pramudita kaukah itu?.
**
/2
Aku terduduk
lesu sesampainya di rumah orang tuaku, perawat di klinik tadi berkata dalam
waktu tiga minggu kedepan aku harus benar-benar menjaga diriku, janinku akan
segera menghirup udara bumi.
Di rumah inilah aku menghabiskan masa kecil
hingga remajaku, di rumah inilah aku tinggal dengan kedua orang tua yang
mengadopsiku. Rumah sederhana ini berhadapan dengan jalan kampung yang di
sebelahnya ialah area persawahan milik warga. Bapakku seorang lurah yang baik,
setidaknya ini bisa dilihat dari respon warga yang diayominya. Bukti nyata
kebaikan beliau yaitu ketika musim panen padi tiba, tak jarang beberapa dari
warga yang notabene juga tetangga kami mengunjungi rumah dan membagikan
beras-beras hasil panenan mereka. Tak hanya petani padi yang melakukan hal itu,
beberapa orang yang mempunyai kebun salak, pepaya, kacang tanah, jagung,
rambutan, mangga, juga kelapa serta pisang silih berganti bertamu ke rumah kami
membawa hasil kebun mereka masing-masing. Ibuku yang seorang guru Sekolah Dasar
di desa sebelah juga orang yang ramah, pantas jika hari libur tiba banyak anak
didiknya yang sering bermain di rumah kami. Beberapa dari mereka yang sudah
melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi juga masih sering berkunjung ke
rumah kami. Tidak hanya anak-anak didik yang bahkan sudah berpasangan pun
berketurunan, orang tua mereka juga ketika lebaran ada yang sowan ke
rumah. Ramai dan hidupnya rumah ini beserta keramahan dan kehangatan
penghuninya ialah faktor utama kenapa aku semakin betah dan selalu betah tinggal
disini bersama mereka.
Matahari pagi
ini masih matahari yang sama kita lihat waktu itu. Matahari yang mendukung
proses fotosintesis daun-daun tanaman yang dulu kutanam bersama ibuku di
halaman rumah kami. Tanaman yang rajin aku siram ketika sore tiba. Hangatnya
matahari pagi ini juga yang mendorongku menuliskan kabar untukmu. Jangan kau
heran jika aku mengetahui alamat tempat tinggalmu, aku paham betul watakmu,
seorang lelaki yang tak pandai menyembunyikan rahasia.
Halo yang jauh
dan menjauh disana. Sengaja aku tidak menyertakan nama dan alamat pengirim
surat, karena aku tahu kamu juga orang yang sanggup menyelidiki sesuatu. Frasa
menjauh disana tidak kubuat-buat. Itulah yang aku rasakan hampir sembilan belas
tahun hidupku. Kamu yang waktu itu berjanji akan menghubungiku dan mencari
alamat pengadopsiku, ternyata kamu selama ini ingkar. Kamu, aku masih menyimpan
marah padamu. Dan masih menyimpan tanya kenapa kamu tidak menghubungiku,
mungkinkah lupa, ataukah kamu takut. Disisi lain aku masih dan tetap mengenangmu
sebagai seseorang yang baik bagi perempuan sepertiku.
Aku
merindukanmu, masih kuingat hangatnya peluk tubuhmu, manisnya bibirmu yang tak
pernah menghisap rokok, juga segores luka di kulit dada kirimu, luka yang
selalu kuusap sebelum kita terlelap. Dulu tempat kita masih sering bocor ketika
hujan tiba, sialnya lagi listrik juga belum masuk ke tempat kita. Itulah
sebabnya setiap malam aku menyelinap untuk bisa tidur bersamamu, seseorang yang
tak bisa lebih kupercaya dibanding siapapun di tempat itu. Kau bilang bekas luka itu disebabkan oleh
cakaran dinosaurus, ketika aku tanya mengapa ada bekas luka di dada sebelum aku
mulai memejamkan mata. Tak lama kemudian aku tahu bekas lukamu akibat ulahmu
yang tak tahu waktu. Ya, kamu dulu pernah bermain bola di bawah cahya bulan,
aku penasaran kenapa kamu melakukannya, dan aku terlalu takut menanyakannya
padamu. Takut kamu tak membolehkanku lagi tidur bersamamu.
Aku tahu, kamu
pasti lupa, namun aku tidak pernah bisa melupakanmu begitu saja, ucapan selamat
malam sebelum aku tidur masih menggema di telingaku, kalimat selamat pagi
sayang masih terngiang. Bagaimana kita mengatur posisi tidur di atas kasur
sempit itupun masih tergambar jelas dalam ingatanku. Aku akan tidur di sisi
dalam, di samping dinding panti, sedangkan kamu berada di sisi luar. Katamu itu
adalah cara menjagaku kalau sewaktu-waktu dinosaurus datang ketika kita tidur,
dengan begitu kamu bisa menghalau dan menghajarnya dengan leluasa. Tidur
bersamamu selalu membuatku merasa aman meskipun sebenarnya ada peraturan agar
anak-anak tidur di tempat dan bagiannya masing-masing. Entah kenapa pengasuh
membiarkan kita tidur bersama, mungkin sikapmu yang selalu ceria dan jauh dari
kata nakal yang membuat mereka memberikan pengecualian pada kita. Atau mungkin
karena kita diantarkan oleh orang yang sama.
Kini aku sudah
hamil tua, sembilan bulan tepatnya, jika kamu menduga jenis kelaminnya maka
jawabnya sama sepertimu, lelaki dan untuk itulah aku ingin meminta pendapatmu
mengenai nama yang akan kuberikan pada calon anakku, aku ingin nama yang sama
denganmu untuk anakku. Lelaki yang kupuja selama masa kuliah kini telah pergi
entah kemana. Hal ini membuatku merasakan beban berat, beban keluarga angkatku,
dan juga beban calon anakku kelak. Ia akan menyambut dunia tanpa kehadiran
sosok bapak. Aku takut ia menjadi kurang percaya diri, atau mungkin menjadi
pembenci. Aku bahkan semakin takut sebab para tetangga tidak menghormati kedua
orang tuaku seperti dulu lagi. Bapak dan ibu awalnya menjadi tertutup sejak
mengetahui kehamilanku, mereka marah, dan bapak bahkan sempat sakit yang kuduga
penyebab utamanya ialah kehamilan di luar nikahku. Aku takut, aku tahu aku
salah, dan aku tidak ingin anakku kelak juga melakukan hal yang salah. Untuk
itu aku memohon kepada ibuku agar aku diasingkan ke panti untuk sementara,
namun segera beliau menolaknya. Ibu berujar, jika memang ini yang telah Dia
berikan, maka dengan senang hati ia akan menjalaninya. Hingga kehamilanku yang
telah memasuki bulan kesembilan, orang tuaku mulai sanggup menerima keadaan.
Tak hanya itu, mereka bahkan berencana membelikan keranjang tidur beserta
mobil-mobilan untuk cucunya kelak.
Aku tidak mau
menamainya dengan nama bapaknya yang telah memutuskan lari bahkan sebelum
pernikahan kami digelar, tapi bukan karena itu aku ingin menamainya sama dengan
namamu. Ranjana abangku, aku tahu kamu telah mencoba melupakanku untuk belasan tahun
lamanya, dan maafkan aku harus mengingatkan tentang masa lalu yang pilu. Aku,
Pramudita dengan segenap tenaga tersisa memohon kepadamu mengijinkanku menamai
anakku dengan namamu. Agar ia bisa menjadi anak yang selalu bergembira laiknya
arti namamu.
****