Selasa, 07 Juni 2016

Lima kalimat dalam surat.

/1

Sore itu aku baru kembali dari mengajar, ketika sepucuk surat dengan amplop bawaan kantor pos tergeletak di ambang pintu.
Peluh membasahi tubuh. Maklum tempatku mengajar tidaklah terlalu jauh, jadi sepeda menjadi kendaraan utamaku untuk mencapainya. Sore itu matahari bersinar terik namun tak cukup menyengat. Aku segera membuka surat itu setelah mengelap keringat di kening dan tengkukku. Tak segera kubaca, sengaja untuk mengamati dimana nama penulis surat berada, sialnya tak kutemukan. Ini menggelikan, selembar kertas binder hanya berisi lima baris kalimat. Apa salahnya kirim pesan via email atau kalau perlu sms saja pikirku. Bisa-bisanya alamat rumah tahu tapi nomor kontak handphone tak punya.

Halo yang jauh dan menjauh disana. Demikian kalimat pertamanya. Aku heran, seingatku, aku tak pernah berusaha menjauhi seseorang, tidak ada diwaktu sekarang tidak pula di masa lalu. Apalagi berencana di masa mendatang, pastilah suatu kerugian ketika kita menjauhi orang lain untuk apapun alasannya. Bayangkan, bukankah memutus silaturahmi itu dosa yang besar yang telah tertulis di Quran dan sering disampaikan dalam ceramah-ceramah keagamaan pun kemasyarakatan. Tiba-tiba aku merasa takut akan kemungkinan terburuk yang pernah aku lakukan. Siapakah dia, apa yang telah aku lakukan padanya, apakah aku sejahat ini. Seketika pertanyaan-pertanyaan itu muncul ketika tersadar sesaat usai membaca kalimat pertama surat tersebut.

Aku merindukanmu, masih kuingat hangatnya peluk tubuhmu, manisnya bibirmu yang tak pernah menghisap rokok, juga segores luka di kulit dada kirimu, luka yang selalu kuusap sebelum kita terlelap. Aku tercekat. Aku tidak ingat pernah tidur dengan seorang perempuan manapun, terlebih dalam keadaan bugil, apalagi dengan lelaki. Memang aku sering bertelanjang dada jika kegerahan, namun untuk tidur aku bahkan selalu memakai selimut. Sebentar kuletakkan kertas berisi lima baris kalimat di atas meja bundar yang terbuat dari kayu. Kugeser meja tersebut mendekati jendela di sebelah ranjang tidurku, lalu kuambil kursi dan kuletakkan di sampingnya. Sebelum kulanjutkan membaca aku menyempatkan menyeduh kopi sachet yang kubeli kemaren di warung Mak Ijah. Aku duduk di samping jendela dengan teralis besi, membelakangi ranjang tidurku, kusesap kopiku, lalu kulihat sinar matahari sore yang menerangi tanaman di bagian belakang kontrakanku. Kuambil kertas surat tersebut, dan aku kembali mengingat apa saja yang pernah aku perbuat. Dalam dudukku yang khusuk sembari mengangkat cangkir berisi kopi, tiba-tiba aku teringat ia. Ya, dia yang masih di kota yang sama bahkan ketika aku menjadikan kota tempat tinggal dan mengajarku sekarang sebagai destinasi ketiga. Perempuan dengan rambut kuncir ekor kuda, kulitnya yang tak terlalu putih, badannya tak lebih tinggi dariku, tidak berisi hanya saja berbentuk. Bentuk yang selalu kuingat selama aku masih berstatus anak Sma. Tersadar ternyata aku sudah terlalu lama tidak menghubunginya, terakhir kudengar kabar tentangnya ketika aku masih semester tiga di perguruan tinggi di pulau seberang. Aku selalu suka caranya memanggil namaku, lebih-lebih saat keringat membasahi wajahnya, baik ketika berolahraga maupun ketika menyantap makanan di kantin. Aku masih ingat gerak-gerak bibirnya ketika membaca novel di perpustakaan sekolah, atau cara beridirinya saat disuruh membaca buku di kelas atau menjawab pertanyaan dari guru. Juga kaki-kakinya yang lincah sewaktu bermain basket. Ah, perempuan itu meskipun tak terlalu pandai pelajaran favoritku namun nilai matematikanya selalu di atasku. Ingin rasanya kutampar bibirnya yang tak seberapa itu dengan bibirku, akan tetapi bibirnya telah dihalalkan oleh teman sebangkuku di Sma. Kadang hidup memang terlihat seperti kebetulan-kebetulan tanpa alasan.

Aku tahu, kamu pasti lupa. Pada bagian ini aku sontak berteriak, tentu saja aku lupa. Ah, rupanya masih koma. Selanjutnya. Namun aku tidak pernah bisa melupakanmu begitu saja, ucapan selamat malam sebelum aku tidur masih menggema di telingaku, kalimat selamat pagi sayang masih terngiang. Setelah membacanya aku tertawa, aku kipikir orang ini hanya mengada-ada. Aku terpingkal, sebab selama ini yang pernah kukirimi ucapan selamat malam dan selamat pagi sayang hanyalah si Kaliko. Ya, kucing betina yang dulu kutemukan di dekat kampusku kuliah. Kucing belang tiga yang kini telah beranak tiga, belang-belang tiga pula tiga-tiganya. Kaliko namanya, aku ambil dari bahasa Jepang yang jika ditulis menggunakan huruf abjad menjadi Calico, dan aku membacanya kaliko. Yang mana jika diartikan dalam dunia perkucingan kurang lebih dimaknai sebagai seekor kucing yang mempunyai tiga jenis warna rambut. Aku tak habis pikir, dari siapa dan untuk siapa surat ini sebenarnya, sampai-sampai mebuatku tertawa mengeluarkan air mata. Dugaanku mengenai sang pengirim surat yaitu Kaliko membuatku terpingkal sekali lagi. Baik betul Tuhan kali ini, gumamku dalam hati. Memberiku teman yang dengan setia berbagi tempat tidur denganku. Bahkan rela dan mau tinggal dan menetap bersamaku untuk waktu begitu lama tanpa status hubungan yang tak lebih sebagai seorang teman. Sesaat aku merasakan haru.

Kini aku sudah hamil tua, sembilan bulan tepatnya, jika kamu menduga jenis kelaminnya maka jawabnya sama sepertimu, lelaki dan untuk itulah aku ingin meminta pendapatmu mengenai nama yang akan kuberikan pada calon anakku, aku ingin nama yang sama denganmu untuk anakku. Kalimat panjang itu membuatku mengumpat. Dia pikir dia siapa, tiba-tiba datang dengan surat yang isinya hanya ingin meminta ijin menggunakan namaku sebagai nama anaknya. Apakah namaku betul-betul unik hingga kamu ingin menggunakannya untuk menamai anakmu, gumamku lirih sambil kembali menyesap kopi yang masih hangat. Dan bagaimana pula kamu bisa menemukan orang yang mempunyai nama seperti yang kau inginkan untuk menamai anakmu. Ataukah kamu salah seorang pekerja BPS yang secara teliti menyortir nama-nama penduduk kota ini yang banyaknya hampir mencapai angka tiga juta jiwa. Lalu mengirimi mereka surat seperti ini serentak sekaligus, dan berharap mereka dengan senang hati akan mengiyakan bahkan mendoakan keselamatan kelahiran anakmu kelak. Jika ya, sungguh suatu kasus ngidam yang unik.

Aku tidak mau menamainya dengan nama bapaknya yang telah memutuskan lari bahkan sebelum pernikahan kami digelar, tapi bukan karena itu aku ingin menamainya sama dengan namamu, aku ingin anakku kelak selalu bergembira, layaknya dirimu Ranjana. Untuk kali pertama aku merasakan kepedihan yang terakhir kurasa bertahun-tahun lamanya. Kertas yang kupegang sedari tadi basah oleh tetesan air mata, sore yang sedari tadi hangat seketika membuatku kedinginan. Aku beranjak cepat membuka lemari pakaian, dan mengambil sebuah liontin dari dalam kotak bekas wadah biskuit khongguan. Pramudita kaukah itu?.

**

/2

Aku terduduk lesu sesampainya di rumah orang tuaku, perawat di klinik tadi berkata dalam waktu tiga minggu kedepan aku harus benar-benar menjaga diriku, janinku akan segera menghirup udara bumi.
 Di rumah inilah aku menghabiskan masa kecil hingga remajaku, di rumah inilah aku tinggal dengan kedua orang tua yang mengadopsiku. Rumah sederhana ini berhadapan dengan jalan kampung yang di sebelahnya ialah area persawahan milik warga. Bapakku seorang lurah yang baik, setidaknya ini bisa dilihat dari respon warga yang diayominya. Bukti nyata kebaikan beliau yaitu ketika musim panen padi tiba, tak jarang beberapa dari warga yang notabene juga tetangga kami mengunjungi rumah dan membagikan beras-beras hasil panenan mereka. Tak hanya petani padi yang melakukan hal itu, beberapa orang yang mempunyai kebun salak, pepaya, kacang tanah, jagung, rambutan, mangga, juga kelapa serta pisang silih berganti bertamu ke rumah kami membawa hasil kebun mereka masing-masing. Ibuku yang seorang guru Sekolah Dasar di desa sebelah juga orang yang ramah, pantas jika hari libur tiba banyak anak didiknya yang sering bermain di rumah kami. Beberapa dari mereka yang sudah melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi juga masih sering berkunjung ke rumah kami. Tidak hanya anak-anak didik yang bahkan sudah berpasangan pun berketurunan, orang tua mereka juga ketika lebaran ada yang sowan ke rumah. Ramai dan hidupnya rumah ini beserta keramahan dan kehangatan penghuninya ialah faktor utama kenapa aku semakin betah dan selalu betah tinggal disini bersama mereka.
Matahari pagi ini masih matahari yang sama kita lihat waktu itu. Matahari yang mendukung proses fotosintesis daun-daun tanaman yang dulu kutanam bersama ibuku di halaman rumah kami. Tanaman yang rajin aku siram ketika sore tiba. Hangatnya matahari pagi ini juga yang mendorongku menuliskan kabar untukmu. Jangan kau heran jika aku mengetahui alamat tempat tinggalmu, aku paham betul watakmu, seorang lelaki yang tak pandai menyembunyikan rahasia.

Halo yang jauh dan menjauh disana. Sengaja aku tidak menyertakan nama dan alamat pengirim surat, karena aku tahu kamu juga orang yang sanggup menyelidiki sesuatu. Frasa menjauh disana tidak kubuat-buat. Itulah yang aku rasakan hampir sembilan belas tahun hidupku. Kamu yang waktu itu berjanji akan menghubungiku dan mencari alamat pengadopsiku, ternyata kamu selama ini ingkar. Kamu, aku masih menyimpan marah padamu. Dan masih menyimpan tanya kenapa kamu tidak menghubungiku, mungkinkah lupa, ataukah kamu takut. Disisi lain aku masih dan tetap mengenangmu sebagai seseorang yang baik bagi perempuan sepertiku.

Aku merindukanmu, masih kuingat hangatnya peluk tubuhmu, manisnya bibirmu yang tak pernah menghisap rokok, juga segores luka di kulit dada kirimu, luka yang selalu kuusap sebelum kita terlelap. Dulu tempat kita masih sering bocor ketika hujan tiba, sialnya lagi listrik juga belum masuk ke tempat kita. Itulah sebabnya setiap malam aku menyelinap untuk bisa tidur bersamamu, seseorang yang tak bisa lebih kupercaya dibanding siapapun di tempat itu.  Kau bilang bekas luka itu disebabkan oleh cakaran dinosaurus, ketika aku tanya mengapa ada bekas luka di dada sebelum aku mulai memejamkan mata. Tak lama kemudian aku tahu bekas lukamu akibat ulahmu yang tak tahu waktu. Ya, kamu dulu pernah bermain bola di bawah cahya bulan, aku penasaran kenapa kamu melakukannya, dan aku terlalu takut menanyakannya padamu. Takut kamu tak membolehkanku lagi tidur bersamamu.

Aku tahu, kamu pasti lupa, namun aku tidak pernah bisa melupakanmu begitu saja, ucapan selamat malam sebelum aku tidur masih menggema di telingaku, kalimat selamat pagi sayang masih terngiang. Bagaimana kita mengatur posisi tidur di atas kasur sempit itupun masih tergambar jelas dalam ingatanku. Aku akan tidur di sisi dalam, di samping dinding panti, sedangkan kamu berada di sisi luar. Katamu itu adalah cara menjagaku kalau sewaktu-waktu dinosaurus datang ketika kita tidur, dengan begitu kamu bisa menghalau dan menghajarnya dengan leluasa. Tidur bersamamu selalu membuatku merasa aman meskipun sebenarnya ada peraturan agar anak-anak tidur di tempat dan bagiannya masing-masing. Entah kenapa pengasuh membiarkan kita tidur bersama, mungkin sikapmu yang selalu ceria dan jauh dari kata nakal yang membuat mereka memberikan pengecualian pada kita. Atau mungkin karena kita diantarkan oleh orang yang sama.

Kini aku sudah hamil tua, sembilan bulan tepatnya, jika kamu menduga jenis kelaminnya maka jawabnya sama sepertimu, lelaki dan untuk itulah aku ingin meminta pendapatmu mengenai nama yang akan kuberikan pada calon anakku, aku ingin nama yang sama denganmu untuk anakku. Lelaki yang kupuja selama masa kuliah kini telah pergi entah kemana. Hal ini membuatku merasakan beban berat, beban keluarga angkatku, dan juga beban calon anakku kelak. Ia akan menyambut dunia tanpa kehadiran sosok bapak. Aku takut ia menjadi kurang percaya diri, atau mungkin menjadi pembenci. Aku bahkan semakin takut sebab para tetangga tidak menghormati kedua orang tuaku seperti dulu lagi. Bapak dan ibu awalnya menjadi tertutup sejak mengetahui kehamilanku, mereka marah, dan bapak bahkan sempat sakit yang kuduga penyebab utamanya ialah kehamilan di luar nikahku. Aku takut, aku tahu aku salah, dan aku tidak ingin anakku kelak juga melakukan hal yang salah. Untuk itu aku memohon kepada ibuku agar aku diasingkan ke panti untuk sementara, namun segera beliau menolaknya. Ibu berujar, jika memang ini yang telah Dia berikan, maka dengan senang hati ia akan menjalaninya. Hingga kehamilanku yang telah memasuki bulan kesembilan, orang tuaku mulai sanggup menerima keadaan. Tak hanya itu, mereka bahkan berencana membelikan keranjang tidur beserta mobil-mobilan untuk cucunya kelak.

Aku tidak mau menamainya dengan nama bapaknya yang telah memutuskan lari bahkan sebelum pernikahan kami digelar, tapi bukan karena itu aku ingin menamainya sama dengan namamu. Ranjana abangku, aku tahu kamu telah mencoba melupakanku untuk belasan tahun lamanya, dan maafkan aku harus mengingatkan tentang masa lalu yang pilu. Aku, Pramudita dengan segenap tenaga tersisa memohon kepadamu mengijinkanku menamai anakku dengan namamu. Agar ia bisa menjadi anak yang selalu bergembira laiknya arti namamu.

****