Kamis, 07 April 2016

Khawatirlah, jika itu menenangkan.


Paling merasa benar itu menyenangkan. Merasa benar membuat hati tenang. Merasa benar menjadikan gejala keretakan tak ubahnya letupan sekejap. Kadang merasa benar juga mengingatkan ketidakbenaran dari keyakinan. Terjerumus dalam perangkap seperti ini tidak kentara, terperangkap oleh jerat – jerat halus tak kasat mata. Meyakini hanya satu kebenaran juga membingungkan, apalagi jika dihadapkan oleh kebenaran – kebenaran lain yang diinternalisasi oleh yang lain. Susah memang, perlu kerandahan hati, adaptasi, penekanan pada ego terlebih amarah.
Beranggapan sejarah sebatas masa lalu tanpa perlu pertimbangan proporsional dalam pemaknaan menandai kebenaran tidak bisa utuh dan absolut. Apa yang menjadi pertimbangan dengan hal itu ialah berikut;

   Tidak baik membanding – bandingkan. Tidak elok menganggap remeh selera berlainan. Tidak mudah menerima kritikan. Tidak terbiasa tetap tersenyum meski direndahkan di depan mata. Tidak usah terlalu rapuh dengan ejekan yang lain. Tidak harus menertawai yang tak sanggup. Tidak perlu mengatai yang tidak sama. Tidak lelah bersabar pada yang belum paham. Tidak lemah walau terus disalahi. Tidak bijak dimarahi balas memarahi. Tidak segan menjabat pada yang kita anggap hebat. Tidak sungkan menyapa meskipun tidak dihiraukan. Tidak perlu berpikir dua kali jika memang untuk kebaikan.

Selanjutnya dalam pemahaman dangkal dan pengalaman yang teramat minim ini, terdapat kegelisahan yaitu jika kemudian kebenaran yang kita anggap benar bisa membawa kita pada level tak terhingga, bisakah setiap orang yang melakukannya menjadi yang pertama semuanya, setiapnya, tanpa kecuali, tanpa pandang bulu, bersama – sama dalam satu golongan yang bahkan menjadi satu – satunya yang ada di semesta, tidak ada yang lainnya, hanya mereka. Lalu di manakah kita, yang merasa benar karena telah dihadapkan dengan para perasa benar yang mengakui kebenaran lainnya tanpa menyalahkan mereka.
Pengakuan diri akan suara yang lain, menghargai sekaligus mengasihi ialah laku padu dalam penyelarasan atas keberagaman kebenaran. Terbitnya matahari pagi juga penanda adanya kesempatan bertindak nyata, embun yang membasahi rerumputan mengilhami imaji untuk saling mengasih sayangi. Segala kata yang menunjukkan keindahan dan kebaikan terangkum dalam satu istilah, cinta. Jika dan hanya jika kita mampu memaknai, mengamini, menjalankan, dan apapun itu yang melandaskan diri padanya, kemungkinan terburuk terjadinya pengabaian terhadap yang lain semakin mengecil. Apakah terlalu naïf jika kemudian kita sering menyebut satu kata tersebut.
Pedoman yang tidak dapat digoyahkan bahkan oleh kebencian akut di muka bumi, seperti kembang rerumputan yang tak tercerabut dari tanah kala badai menerjang. Hidup yang penuh dendam amarah tidak bisa merasakan satu sentuhan lembut kasih di ujung jari. Begitukah yang dirasakan oleh para perasa benar yang terlanjur tenar. Masih berupa pendapat kasar.
Sebuah pernyataan keheranan pernah tercatat;

   Di setiap langkah yang tertuju pada kebahagiaan, selalu ada pribadi – pribadi yang tak sungkan untuk mengembangkan sayapnya bukan hanya agar dia dapat terbang lebih tinggi, lebih kuat menembus badai dan derasnya angin. Mereka turut serta menaungi yang lain sekaligus dalam usahanya untuk memperbaiki diri. Kegelisahan yang terpancar dari wajah – wajah muda menjadi awal dari sebuah keinginan untuk mengenali lebih jauh apa dan bagaimana ia bisa hidup menjalani hari, bersahabat dan beradaptasi, mengayun, mengalir alun.
Dari segala pendapat mengenai kesenangan, biasanya dapat digambarkan lebih rinci misalnya dalam mengarungi lembah gegap-gempita asmara. Di dalamnya tidak hanya mengandung jawaban kenapa kita bisa bahagia pun juga kesadaran bagaimana kita mengejar keinginan dan menciptakan kebahagiaan dengannya. Sesederhana nasi padang dengan lauk rendang. Seterbiasa itulah kesenangan asmara terpantau dalam kepungan polah bungah sepasang manusia.
Masih dalam pandangan awal, jika saja apa yang disebut sebagai hambatan selama mengarungi lautan suka cita ialah pengkhianatan. Maka, jelas wajar bila keduanya tidak mau lagi saling menepikan ego barang sejenak. Dan ini yang menjadikan kesenangan sekaligus rentan, rapuh dalam hirupan nafas kukuh. Getaran suka, beralih menjadi genderang pertikaian. Amarah terlontar dalam setiap pandangan, tatapan licik menghantui keterlibatan niat memperbaiki keadaan.
Jaring penghubung manusia, relasi pertemanan dan sebagainya tak pantas diperlakukan sebelah hati. Butuh penyesuaian kerendahan hati dengan kepercayaan diri, biar mampu, mengendalikan dan tak terjerat nafsu pongah.

Ringkih, getir, dan riang sekaligus. Meskipun dihadapkan pada batasan – batasan tertentu semua masih sanggup dilewati dengan kepercayaan diri. Apa yang akan terjadi selanjutnya benar – benar mengikuti arus. Pelayanan maksimal pada lainnya yang mau menerima dengan tanpa sungkan. Kecakapan berbalas ungkapan bersahutan menjadikan sore yang panas sebatas rutinitas, tanpa beban yang perlu diratapi berlebihan. Aura kejenakaan kadang sanggup menyelamatkan peristiwa, emosi yang tiba – tiba gugur akibat bersentuhan dengannya merupakan pertanda bahwa tak ada yang kemudian menjadi wabah kebencian.
Seolah tak perlu khawatir pada anjuran kebenaran. Suara kebenaran berintikan anggaran.
Para mereka juga jiwa – jiwa yang tak mati oleh banjir komoditi, padanya kebenaran akan terungkap, tersingkap.