Sudah hampir lima tahun aku di kampung orang. Tempat yang
teramat berbeda dengan dusun kita yang teduh itu. Sudah hampir selesai pula
masa sekolahku, dan akan segera kusandang gelar sarjana di akhir namaku. Tapi
buk, apalah dayanya seorang putra sulung terbang tinggi nun jauh disini tanpa
suatu hasil yang bisa dibawa pulang nanti?
Aku tahu ibuk dan bapak mungkin tak pernah memintaku kembali
dengan sebongkah emas atau sekarung uang. Tapi sebagai anakmu, anak kalian yang
kalian lahir dan besarkan dengan ikhlas, aku masih tetap akan meyakini bahwa
hidupku juga tentang ibuk-bapak dan adekku.
Jika berkenan akan kusampaikan sesuatu. Buk, aku tahu simbah
dan ibuk selalu mengajariku mengaji mengenalkanku tentang agama dan bagaimana
menjalaninya. Dan aku juga bersyukur bapak bukan tipe orang yang mau menang
sendiri, meski di hadapan putra-putranya ia tegas dan keras, di depan orang
lain ia tipe orang yang tidak suka memantik konflik. Dari bapaklah kemudian
kami diajarkan bagaimana menghadapi orang lain, bergaul, dan memperlakukan
orang lain bahkan menyayangi mereka.
Begini, entah bacaan apa yang telah mempengaruhi pikiran dan
jiwa ini akan tetapi aku, anak sulungmu, merasa bahwa tak ada balas dendam yang
lebih mulia selain menyejahterakan kalian berdua di hari tua. Aku sadar aku tak
lagi remaja, dan teramat sadar bahwa kalian juga menua. Rambut hitam kalian,
tangan-tangan dengan otot-otot tegas itu kini mulai sayu. Tubuhmu mudah lelah
tetapi semangat dan doa-doamu semakin riuh rendah.
Aku bukan lagi kenari dalam sangkar, yang meski nyaring
berbunyi tetapi tak terlalu kuat melawan angin liar. Kepak sayapku tak lagi
mudah, cakar dan paruhku semakin liat. Dan semenjak itu aku tak lagi ingin
menjadi yang kuingat. Aku ingin terbang lebih tinggi lagi, lebih jauh keliling
bumi. Aku ingin menari bersama awan namun dalam inginku juga ada angan berenang
dengan ikan. Aku gemini, lahir di bulan juni, dan mungkin karena itu aku tak
terlalu kuasa memilih mana yang harus kucintai. Pada saat seperti itulah aku ingin
mendengar pendapatmu, ibuk. Selama ini aku tak terlalu mengindahkan kata dan
hanya mengaminkan doa. Sebab aku merasa jemu jika harus menuruti perintahmu,
tapi itulah aku yang akan tak selalu patuh namun masih sering luluh. Aku ingin
ibuk membaca pesan singkatku dan lalu membalasnya dengan bahagia karena aku
telah memilih apa yang juga kau cinta. Tapi apa, dan bagaimana aku
melakukannya.
Aku ingin pulang bukan sebagai anakmu saja pun seorang
dewasa yang punya kehendak dan bertanggung jawab penuh atasnya. Dan ini yang
ingin kuutarakan:
Setiap menit yang tersisa ialah peluang
mengada untuk kalian yang bersahaja. Menyampaikan doa dan berdialog dengan
pencipta. Dalam riuh kepalaku, aku sadar dan menginginkan sesuatu; pada usia
tiga puluhku setelah aku memberikan apa-apa yang kalian butuhkan aku akan pergi
lagi entah kemana. Mungkin sendiri, mungkin berdua. Ke suatu tempat yang
mengijinkanku menggelar segala imaji dan kata. Berbicara apa saja dengan yang
ada, menulis dan kembali tertidur pulas di pangkuan semesta. Kurasa tak lama,
aku hanya ingin, sekali itu aku menafsirkan kembali hidup, cinta, aku, dunia,
keluarga, semesta, juga pencipta. Aku pergi hanya untuk pulang, bukan lari.
Karena sekarangpun telah kupilih dengan sadar; apa yang kusanggup itu yang akan
kujalani.