Jumat, 20 Januari 2017

Surat untuk ibuk.

Sudah hampir lima tahun aku di kampung orang. Tempat yang teramat berbeda dengan dusun kita yang teduh itu. Sudah hampir selesai pula masa sekolahku, dan akan segera kusandang gelar sarjana di akhir namaku. Tapi buk, apalah dayanya seorang putra sulung terbang tinggi nun jauh disini tanpa suatu hasil yang bisa dibawa pulang nanti?
Aku tahu ibuk dan bapak mungkin tak pernah memintaku kembali dengan sebongkah emas atau sekarung uang. Tapi sebagai anakmu, anak kalian yang kalian lahir dan besarkan dengan ikhlas, aku masih tetap akan meyakini bahwa hidupku juga tentang ibuk-bapak dan adekku.
Jika berkenan akan kusampaikan sesuatu. Buk, aku tahu simbah dan ibuk selalu mengajariku mengaji mengenalkanku tentang agama dan bagaimana menjalaninya. Dan aku juga bersyukur bapak bukan tipe orang yang mau menang sendiri, meski di hadapan putra-putranya ia tegas dan keras, di depan orang lain ia tipe orang yang tidak suka memantik konflik. Dari bapaklah kemudian kami diajarkan bagaimana menghadapi orang lain, bergaul, dan memperlakukan orang lain bahkan menyayangi mereka.
Begini, entah bacaan apa yang telah mempengaruhi pikiran dan jiwa ini akan tetapi aku, anak sulungmu, merasa bahwa tak ada balas dendam yang lebih mulia selain menyejahterakan kalian berdua di hari tua. Aku sadar aku tak lagi remaja, dan teramat sadar bahwa kalian juga menua. Rambut hitam kalian, tangan-tangan dengan otot-otot tegas itu kini mulai sayu. Tubuhmu mudah lelah tetapi semangat dan doa-doamu semakin riuh rendah.
Aku bukan lagi kenari dalam sangkar, yang meski nyaring berbunyi tetapi tak terlalu kuat melawan angin liar. Kepak sayapku tak lagi mudah, cakar dan paruhku semakin liat. Dan semenjak itu aku tak lagi ingin menjadi yang kuingat. Aku ingin terbang lebih tinggi lagi, lebih jauh keliling bumi. Aku ingin menari bersama awan namun dalam inginku juga ada angan berenang dengan ikan. Aku gemini, lahir di bulan juni, dan mungkin karena itu aku tak terlalu kuasa memilih mana yang harus kucintai. Pada saat seperti itulah aku ingin mendengar pendapatmu, ibuk. Selama ini aku tak terlalu mengindahkan kata dan hanya mengaminkan doa. Sebab aku merasa jemu jika harus menuruti perintahmu, tapi itulah aku yang akan tak selalu patuh namun masih sering luluh. Aku ingin ibuk membaca pesan singkatku dan lalu membalasnya dengan bahagia karena aku telah memilih apa yang juga kau cinta. Tapi apa, dan bagaimana aku melakukannya.
Aku ingin pulang bukan sebagai anakmu saja pun seorang dewasa yang punya kehendak dan bertanggung jawab penuh atasnya. Dan ini yang ingin kuutarakan:
Setiap menit yang tersisa ialah peluang mengada untuk kalian yang bersahaja. Menyampaikan doa dan berdialog dengan pencipta. Dalam riuh kepalaku, aku sadar dan menginginkan sesuatu; pada usia tiga puluhku setelah aku memberikan apa-apa yang kalian butuhkan aku akan pergi lagi entah kemana. Mungkin sendiri, mungkin berdua. Ke suatu tempat yang mengijinkanku menggelar segala imaji dan kata. Berbicara apa saja dengan yang ada, menulis dan kembali tertidur pulas di pangkuan semesta. Kurasa tak lama, aku hanya ingin, sekali itu aku menafsirkan kembali hidup, cinta, aku, dunia, keluarga, semesta, juga pencipta. Aku pergi hanya untuk pulang, bukan lari. Karena sekarangpun telah kupilih dengan sadar; apa yang kusanggup itu yang akan kujalani.