Rabu, 19 Februari 2020

Sahaja

Pagi biasa di pinggiran kota. Menunggu matahari membisukan kokok ayam jantan. Di depan meja bekas mesin jahit ibunya, segelas teh sisa semalam tinggal separuh. Kerupuk jaring dan tahu goreng dalam satu piring.
Hari ini, kepulan asap membumbung dari sekitaran kampung di sebelah utara, tengiknya menembus ventilasi kamar. Dua puluh tahun lebih sekian yang lalu ia menyunggingkan senyum, bukan tangis, kepada dua orang yang kini dipanggilnya pak dan buk.
Dua puluh tahun lebih sekian adalah perjalanan panjang kebodohan, kesia-siaan, muram, kebencian, lelah, tapi juga tersimpan rindu-kenangan, dan terkunci harap dan cita dalam tempurung kepala yang berwajah merona.
Pagi ini ia masuk kerja pukul sembilan, ijin barang satu jam untuk menyelesaikan administrasi di kantor lamanya. Tak ada keluh kesah apatah gelisah. Semua berjalan seperti apa yang semesta utarakan. Semua terpenuhi sesuai semesta kehendaki.
Jam menuju angka delapan lebih dua puluh tiga, ia melirik botol bekas sirup yang terisi bunga-bunga pemberian ibu kos. Tak ada sarapan dan baju digosok. Tak ada ragu. Hari ini ia merayakan sekejap hari lahirnya; dalam seutas senyum yang dalam dan terima kasih yang tulus di rongga dada.