Sekali lagi, tersakiti, karena dan selalu sama sebabnya, mengabaikan kehadiran kebaikan-kebaikan. Ketika, sadar akan keteledoran, waktu berjalan dengan anggun menuju ketidakpastian yang kesekian kalinya.
Di tepi kerinduan yang meranggas, ditempeli debu-debu, berjalan menengadah, mengaharap sekali lagi guyuran air suci tangis riang.
Melibatkan kenangan, orang-orang berwajah sendu tertunduk menelusuri aspal-aspal tua. Masih dalam siang yang kering, menahan perih, suka duka menguap tanpa bekas.
Pada diam yang tak disadari, keputusasaan menjalar, menyuburkan sulur-sulur beracun yang mengakibatkan mata sembab dan dada sesak.
Terus berjalan diiringi bayang kegagalan, cerita masa lalu adalah teman setia yang tak perlu disangsikan. Kehidupan mendatang adalah setapak demi setapak harap yang dihentak lugas di atas tanah berdebu. Yang dalam kisaran setengah jam akan terhapus jejaknya oleh angin kering musim kemarau.