Selamat siang. Bagaimana kabarmu. Terik siang tak membuatmu
kalah bukan.
Aku masih ingat siang itu kita berlarian di sepanjang jalan
pulang, sekolah masih menyenangkan, hidup masih banyak tidur dan main saja.
Kenapa akhir-akhir ini bumi jadi begitu panas dan malam tak
lagi menampakkan bintang-bintang. Kenapa pula ayam berkokok terlalu pagi,
sedangkan si kucing lebih suka beraktivitas dari pada tidur siang. Siang yang
panas dan ingatan di kepala yang tak tuntas. Mirip judul sebuah lagu katamu.
Tidak, tidak ada yang kebetulan. Inilah rahasia keindahan, comot sana, comot
sini, lalu tambahkan sebanyak-banyaknya ide-ide dan gagasan juga
kalimat-kalimat dan biarkan intepretasi di kepala orang-orang. Kau hanya perlu
bernafas dan menghidupi kerumitan di kepalamu.
Lalu lalang semut dan kecoa di kamar tak kau hiraukan. Suara
burung gereja di jendela juga kau abaikan. Terlalu lelah ataukah terlalu indah?
Mati dan hal-hal buruk yang kau bicarakan menghinggapi
kepalaku beberapa minggu, sebenarnya bagaimana hal buruk bisa terjadi pada
orang-orang yang hidup biasa saja tanpa banyak bertanya. Rumput-rumput yang
dicabuti dan pepohonan yang dipangkas sebegitu seringnya, apakah mereka
melakukan balas dendam hingga menyengsarakan manusia. Sapi-sapi gemuk yang
selalu dikorbankan dan kambing-kambing bau berdaging alot itukah yang berdoa
agar manusia segera mendapat balasan dari Pencipta. Tapi siapa pula Pencipta?
Kau tanyakan itu pada para anak TK, mereka jawab si Agung.
Kau tanya pada penjual nasi goreng dijawabnya Ibuku. Perlahan kau lumat
buku-buku, siang malam, berminggu-minggu dan kau masih tak tahu, jangan pula
kau tanyakan padaku.
Sejenak lepaskan baju lusuhmu dan mandilah. Mandi dengan air
dingin dari sumur dan reguklah segelas air putih dari kulkas.
Dinginkan.
Diinginkan.
Dinginkan.
Diinginkan.
Dinginkan, apakah diinginkan.