Rabu, 22 Mei 2019

445


Selamat siang. Bagaimana kabarmu. Terik siang tak membuatmu kalah bukan.
Aku masih ingat siang itu kita berlarian di sepanjang jalan pulang, sekolah masih menyenangkan, hidup masih banyak tidur dan main saja.

Kenapa akhir-akhir ini bumi jadi begitu panas dan malam tak lagi menampakkan bintang-bintang. Kenapa pula ayam berkokok terlalu pagi, sedangkan si kucing lebih suka beraktivitas dari pada tidur siang. Siang yang panas dan ingatan di kepala yang tak tuntas. Mirip judul sebuah lagu katamu. Tidak, tidak ada yang kebetulan. Inilah rahasia keindahan, comot sana, comot sini, lalu tambahkan sebanyak-banyaknya ide-ide dan gagasan juga kalimat-kalimat dan biarkan intepretasi di kepala orang-orang. Kau hanya perlu bernafas dan menghidupi kerumitan di kepalamu.

Lalu lalang semut dan kecoa di kamar tak kau hiraukan. Suara burung gereja di jendela juga kau abaikan. Terlalu lelah ataukah terlalu indah?

Mati dan hal-hal buruk yang kau bicarakan menghinggapi kepalaku beberapa minggu, sebenarnya bagaimana hal buruk bisa terjadi pada orang-orang yang hidup biasa saja tanpa banyak bertanya. Rumput-rumput yang dicabuti dan pepohonan yang dipangkas sebegitu seringnya, apakah mereka melakukan balas dendam hingga menyengsarakan manusia. Sapi-sapi gemuk yang selalu dikorbankan dan kambing-kambing bau berdaging alot itukah yang berdoa agar manusia segera mendapat balasan dari Pencipta. Tapi siapa pula Pencipta?

Kau tanyakan itu pada para anak TK, mereka jawab si Agung. Kau tanya pada penjual nasi goreng dijawabnya Ibuku. Perlahan kau lumat buku-buku, siang malam, berminggu-minggu dan kau masih tak tahu, jangan pula kau tanyakan padaku.

Sejenak lepaskan baju lusuhmu dan mandilah. Mandi dengan air dingin dari sumur dan reguklah segelas air putih dari kulkas.

Dinginkan.

Diinginkan.

Dinginkan.

Diinginkan.

Dinginkan, apakah diinginkan.