Minggu, 07 Juni 2015

Seharusnya Enam Juni~



Manusia hanyalah biasa, tanpa tedeng aling – aling untuk menjunjung tinggi etika, maka didapatkan estetika. Keagungan kindahan ciptaan keturunan adam – hawa hanyalah pembanding yang tak akan pernah menuai kematangan; emosional, spiritual, mental, intelektual. Menjadikan mereka kekurangan hasrat bermoral. Mengaplikasikan diri sebagai satu – satunya makhluk paling berharga, berkesadaran, berakal, dan menjunjung tinggi kesejahteraan. Menguraikan berbagai macam persoalan; pertanyaan tentang apa sesungguhnya dan bagaimana mencapainya.
Sejuta kisah pun hanyalah mitos jika dalam dunia kita tidak pernah ada yang bisa melakukannya. Tuhan bukan kita bohongi, tapi mungkinkah Ia kita manupulasi?
Selebaran isu mengenai kemanusiaan kita sebenarnya kritik keras tehadap berbagai tindakan yang mencerminkan betapa primitif dan beringasnya manusia.
Kekuatan amoral yang merajalela, norma dan hukum yang telah lama di uninstall dari otak mereka. Manusia bukan lagi makhluk paling super, kepasitas penggunaan otaknya yang masih dibawah lumba – lumba memang tidak membuat kita jemawa, apalagi merendah, selalu berhasrat menguasai, memiliki, dan mendapatkan bahkan dengan cara apapun yang masuk dalam akal mereka, jika mungkin akan merebut paksa hak makhluk lainnya.
Lalu bagaimana dengan keinginan memiliki jika sekarang tidak ada lagi yang lebih agung daripada cinta - kasih. Perumpamaan sempurna kepada mereka yang tidak bisa menguasai materi disekitarnya namun secara terus – menerus terkoneksi bahkan selalu bertransfer ria tentang segala kemungkinan untuk menjadikan cinta – kasih sebuah bangunan megah nan indah yang tidak hanya elok ketika semut berjalan di atas karpetnya, namun juga pelatuk yang bertengger di atas sandaran kursi kayu jati di samping jendela besar yang memperlihatkan pemandangan halaman berrumput hijau disertai tetumbuhan angsana, di sebelahnya terduduk rusa totol dengan anaknya meneguk air segar aliran sungai jernih tempat bagi ikan koi dan kura – kura brazilia.
Senikmat itukah surga yang selalu didambakan orang yang menyumbangkan sejumlah besar uangnya agar keluguan utopis mengenai keindahan surga yang akan segera ia gapai benar – benar bisa dipastikan tidak meleset dari jangkauannya.
Bagaimana kalau Conrad yang berasumsi selalu memiliki gairah seksual tidak pada orang yang ia cintai, malahan ia tak memiliki keinginan tersebut pada orang yang ia cintai adalah gambaran bahwa seks tidak melulu soal cinta, hanya sebuah nafsu – gairah. Bukankah cinta pada siapa saja yang kemudian bisa diintepretasikan seperti tersebut oleh Conrad. Ia tak menjawab, hanya saja pada sesi epilognya sebuah adegan merayu bukan lagi tentang cinta yang seringkali terbingkai oleh simpati, euphoria semata. Inilah keajaiban dari segala kuasa manusia. Rasa yang oleh kita selalu mudah diterka namun akan menjadi monster tak terkendali seperti kyubi ekor Sembilan.
Bulan tidak lagi berada pada penuhnya, bintang bukan hadir sebagai pelengkap. Mereka ada seperti aku dan kau ada. Tanpa pretensi,