Manusia hanyalah biasa, tanpa tedeng aling – aling untuk menjunjung
tinggi etika, maka didapatkan estetika. Keagungan kindahan ciptaan keturunan
adam – hawa hanyalah pembanding yang tak akan pernah menuai kematangan;
emosional, spiritual, mental, intelektual. Menjadikan mereka kekurangan hasrat
bermoral. Mengaplikasikan diri sebagai satu – satunya makhluk paling berharga,
berkesadaran, berakal, dan menjunjung tinggi kesejahteraan. Menguraikan
berbagai macam persoalan; pertanyaan tentang apa sesungguhnya dan bagaimana
mencapainya.
Sejuta kisah pun hanyalah mitos jika dalam dunia kita tidak pernah ada
yang bisa melakukannya. Tuhan bukan kita bohongi, tapi mungkinkah Ia kita
manupulasi?
Selebaran isu mengenai kemanusiaan kita sebenarnya kritik keras tehadap
berbagai tindakan yang mencerminkan betapa primitif dan beringasnya manusia.
Kekuatan amoral yang merajalela, norma dan hukum yang telah lama di uninstall dari otak mereka. Manusia
bukan lagi makhluk paling super, kepasitas penggunaan otaknya yang masih
dibawah lumba – lumba memang tidak membuat kita jemawa, apalagi merendah,
selalu berhasrat menguasai, memiliki, dan mendapatkan bahkan dengan cara apapun
yang masuk dalam akal mereka, jika mungkin akan merebut paksa hak makhluk
lainnya.
Lalu bagaimana dengan keinginan memiliki jika sekarang tidak ada lagi
yang lebih agung daripada cinta - kasih. Perumpamaan sempurna kepada mereka
yang tidak bisa menguasai materi disekitarnya namun secara terus – menerus
terkoneksi bahkan selalu bertransfer ria tentang segala kemungkinan untuk
menjadikan cinta – kasih sebuah bangunan megah nan indah yang tidak hanya elok
ketika semut berjalan di atas karpetnya, namun juga pelatuk yang bertengger di
atas sandaran kursi kayu jati di samping jendela besar yang memperlihatkan
pemandangan halaman berrumput hijau disertai tetumbuhan angsana, di sebelahnya
terduduk rusa totol dengan anaknya meneguk air segar aliran sungai jernih
tempat bagi ikan koi dan kura – kura brazilia.
Senikmat itukah surga yang selalu didambakan orang yang menyumbangkan
sejumlah besar uangnya agar keluguan utopis mengenai keindahan surga yang akan
segera ia gapai benar – benar bisa dipastikan tidak meleset dari jangkauannya.
Bagaimana kalau Conrad yang berasumsi selalu memiliki gairah seksual
tidak pada orang yang ia cintai, malahan ia tak memiliki keinginan tersebut
pada orang yang ia cintai adalah gambaran bahwa seks tidak melulu soal cinta,
hanya sebuah nafsu – gairah. Bukankah cinta pada siapa saja yang kemudian bisa
diintepretasikan seperti tersebut oleh Conrad. Ia tak menjawab, hanya saja pada
sesi epilognya sebuah adegan merayu bukan lagi tentang cinta yang seringkali
terbingkai oleh simpati, euphoria semata. Inilah keajaiban dari segala kuasa
manusia. Rasa yang oleh kita selalu mudah diterka namun akan menjadi monster
tak terkendali seperti kyubi ekor Sembilan.
Bulan tidak lagi berada pada penuhnya, bintang bukan hadir sebagai
pelengkap. Mereka ada seperti aku dan kau ada. Tanpa pretensi,