Oke, mari kita mulai lagi. Bapak tadi bilang bahwa hidup ini tidak hanya sekadar mencari kekayaan -uang. Ketika bisa bermanfaat bagi orang lain dan membantu tidak harus secara materi. Itulah kenyataan dan sekarang baru saya sadari beliau memiliki pemikiran sebegitu hebatnya.
Saya akui, sebagai seorang gemini yang sering mengalami rasa kantuk berlebihan, mood mudah berubah dan keras kepala ditambah sebagai anak sulung membuat saya tidak mudah untuk mau mengalah. Faktanya demikian, ketika saya memberikan pendapat dan bisa dipatahkan oleh argumen dari orang lain hal ini rasanya sulit diterima dengan lapang dada. Apalagi ketika mendapatkan kritik mengenai diri saya maupun yang saya utarakan. Jadi ketika hal tersebut terjadi, yang bisa dan biasa dilakukan adalah menyendiri dan kemudian tidur atau bermalas-malasan dalam waktu yang relatif lama. Sejak SD, sampai SMP lalu SMA. Otak saya hanya memiliki persepsi yang bersudut pandang hanya dari kaca mata sendiri. Akibatnya tentu semakin membuat saya tumbuh sebagai anak yang keras kepala dan maunya menang sendiri. Meskipun ada, beberapa teman-teman saya yang saya anggap dia atau mereka memiliki jalan pikiran sama dan saya terima masukannya walaupun dengan hati yang belum legawa.
Sering terjadi, pendapat, saran, dan bahkan nasehat dari kedua orang tua saya sering saya abaikan. Entah mengapa saya lebih memegang teguh pandangan saya berdasarkan pikiran sendiri.
Beruntung dalam masa-masa kuliah ini saya memiliki teman yang jujur bisa menjadi cerminan bagi diri, kenapa saya bilang begitu, tak lain bukan dia adalah ahli bidang psikologi namun lebih kepada pengalaman hidup dan pikiran yang ada di otaknya. Saya mulai belajar untuk menerima masukan meski awalnya saya menyangkal dengan tegas apa yang saya lakukan sudah benar. Sedikit demi sedikit. Begitu juga kawan-kawan lama yang senantiasa memberikan pendapat ketika saya mengalami kebuntuan dalam menanggapi sebuah masalah ataupun berbesar hati menerima keluhan serta ungkapan kekesalan terhadap hal-hal tertentu. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada mereka yang telah meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita-cerita dan memberikan tanggapan saya juga selalu mendukung agar bergerak ke arah yang lebih baik. Dengan respon-respon positif yang mereka tunjukkan seharusnya saya menyadari masih banyak yang peduli terhadap saya. Saya juga harus bersyukur karena masih ada yang mau mengkritik saya, sebab itu salah satu ciri orang bahagia.
Terhadap perkatan yang Bapak ucapkan tadi, saya cukup heran bercampur kagum. Mungkin ini kali pertama, saya seolah mendapat legitimasi terhadap kehidupan yang saya jalani.
Pernah dosen saya berujar kalau kuliah itu belum tentu mendapatkan banyak pengetahuan apalagi teori yang bisa di hafal melainkan meningkatnya daya nalar dan daya kritis kita dalam menganalisa masalah serta memecahkannya. Lebih lanjut, ketika kuliah kita selesai dan mendapat ijazah, hal itu terasa sia-sia karena tidak diiringi kualitas diri dari para sarjana. Jadi, ketika kita kuliah hanya datang, duduk, diam, dan mendengarkan ceramah dosen bahkan tidur sepeti yang banyak anggota DPR praktekkan, maka jangan heran ketika banyak sarjana-sarjana yang ditanya suatu topik masalah tertentu jawabannya kurang lebih sama-tidak jauh beda dengan siswa-siswa SMA atau pedagang kaki lima(bukan bermaksud merendahkan profesi tertentu ).
Inilah kenyataan, kualitas sarjana semakin kekinian semakin diragukan, kehidupan manusia yang cenderung mengutamakan teknologi membuat kecanduan berlebihan dan bisa mematikan kreatifitas mahasiswa serta dosennya.
Kembali kepada ucapan yang dilontarkan oleh Bapak saya, jika ditelisik lebih dalam, mempunyai kaitan dengan perkataan dari dosen tadi. Bahwa seharusnya kita generasi muda, mahasiswa khususnya sebagai agent of change, mengubah orientasi dalam melakukan kegiatan di kampusnya. Kebiasaan asal bapak senang, yang penting dapat nilai bagus apapun caranya harus segera dihapuskan kalau tidak ingin ditahun-tahun mendatang SDM di Indonesia semakin menurun secara kualitas. Dan mengakibatkan bangsa-bangsa lain leluasa meginjak-injak harga diri yang memang tak berharga tanpa memiliki ilmu dan pengetahuan.
Kualitas harus kita miliki, dan salah satu kebiasaan yang perlu dikembangkan ialah terbiasa menerima pendapat orang lain, saran, maupun kritik dari pihak lain. Karena ketika mampu menerima pendapat dari orang lain, melakukan filterisasi terhadapnya, untuk kemudian mendapat kesimpulan dan asumsi-asumsi baru, tentu akan menambah pengetahuan serta wawasan kita selaku mahasiswa yang sedang belajar.
Dan dengan kodratnya, manusia harus sering-sering ber-terima kasih. Dengan ikhlas menerima pendapat orang dan selanjutnya memberikan nilai-nilai postif tersebut kepada manusia lainnya.
So, kritik memang tidak mengenakan. Perlu dicatat, tanpa adanya kritik maka tak ada lagi yang peduli. Semoga membuka hati kita terhadap pandangan baru yang lebih bermanfaat bagi sesama.