Banyak aspek yang mempengaruhi masalah kependudukan di negeri ini, dan hampir kesemuanya memiliki hubungan erat juga tak bisa diselesaikan dengan hanya satu masalah. Inilah yang kemudian disebut sebagai lingkaran setan, dimana ketika dihadapkan pilihan dan kenyataan hanya ada dua kemungkinan yaitu melakukan kebaikan yang berakibat buruk atau melakukan keburukan yang menghasilkan kebaikan. Masalah social yang menera bangsa ini, bukan semata tanggungan pemerintah, tapi kita bersama, warga negara Indonesia. Karena bumi Indonesia bukan hanya punya kita, melainkan juga hak generasi mendatang. Kebijakan untuk menanggulangi masalah kependudukan harus meyentuh akar permasalahan, tidak lagi menganut sistem asal bapak senang. Upaya harus diwujudkan tidak hanya sebatas wacana, dan dalam prakteknya perlu pembimbingan lebih lanjut agar tidak terkesan lepas tangan setelah melaksanakan satu kewajiban. Dibutuhkan jiwa pahlawan, yang tak hanya tangguh dalam berperang pun selalu mengangkat senjata, jiwa yang mau berkorban tanpa pamrih, tak haus pengakuan, apalagi kekayaan. Generasi muda mengambil peran sebagai motor penggerak yang tak lain disebabkan generasi uzur menyisakan kapasitas sebatas penasehat. Kolaborasi kedua generasi ini membuka peluang bagi generasi selanjutnya menikmati bumi Indonesia. Partisipasi masyarakat juga dibutuhkan sebagai bahan bakar untuk terus bangkit dan kemudian menggapai cita-cita luhur bangsa yang berasaskan ketuhanan, dilandasi rasa kemanusiaan, dalam mewujudkan persatuan dengan musyawarah sebagai sarana menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.